Pensiunan pun Bisa Kuliah di Australia

Citizen Reporter  ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) edisi Kamis, 16 Juni 2016 . Silakan klik DI SINI untuk membaca di laman Serambi Indonesia.

 

sumber gambar: http://izquotes.com/quote/128559

sumber gambar: http://izquotes.com/quote/128559

OLEH MUHAMMAD ADAM, putra Seunuddon, Aceh Utara, melaporkan dari Australia

ADA beberapa hal menarik dari topik (mata kuliah) yang saya pelajari semester ini di Universitas Flinders, Australia, yaitu Studies of Asia Across the Curriculum. Topik ini ditawarkan secara nonregular oleh universitas yang berada di selatan Australia ini.

Secara substansi, mata kuliah tersebut memberikan kesempatan kepada para pendidik dan tenaga kependidikan di Australia untuk mempelajari Asia dan kesalingkaitannya dengan Australia dalam berbagai aspek. Termasuk aspek bahasa, seni, dan sosial-budaya, politik dan demokrasi, agama, ekonomi, perdagangan, etnis, adat, sistem pemerintahan, sistem pendidikan, struktur sosial masyarakat, sejarah, geografi, demografi, dan lainnya.

Pengetahuan dan pemahaman kognisi yang didapat selama proses belajar-mengajar dalam topik ini diharapkan akan membantu mereka dalam melakukan aktivitas pendidikan di sekolah/institusi pendidikan.

Pertama, mata kuliah Studies of Asia yang saya ambil tersebut dirancang tidak hanya untuk mahasiswa Flinders University, tetapi juga para guru dan pemangku kepentingan pendidikan di Australia sebagai bagian dari professional development mereka.

Adalah sesuatu yang baru bagi saya ketika melihat universitas menawarkan mata kuliah yang bisa dimanfaatkan mahasiswa dan pada saat bersamaan juga bisa diakses oleh para profesional untuk peningkatan kapasitas mereka.

Pada sistem kita, mungkin sejenis seminar, workshop, atau konferensi yang mengundang guru atau tenaga profesional sebagai peserta dari luar kampus. Namun, program-program tersebut belum bisa dimanfaatkan sebagai salah satu bagian dari mata kuliah oleh mahasiswa, kreditnya tidak dihitung.

Di samping itu, perbedaan signifikan lainnya adalah jika peserta seminar/workshop yang diadakan di tempat kita pada umumnya diundang dan gratis. Tapi di Australia, untuk mendapatkan layanan pendidikan seperti ini, peserta harus mengeluarkan biaya. Meskipun masih bisa diperdebatkan, gratis dan berbayar tentu saja memiliki implikasi terhadap motivasi dan keseriusan dalam belajar.

Menariknya lagi, tidak sedikit di antara peserta didiknya yang sudah berumur 50-an. Bahkan ada beberapa yang sudah pensiun (purnabakti). Namun, semangatnya untuk belajar masih tidak terbendung. Ini tentu saja sesuatu yang baik untuk dicontoh ketika dalam usia tua mereka masih giat untuk belajar. Dalam Islam memang jelas diinstruksikan bahwa manusia harus selalu menuntut ilmu tanpa mengenal batas usia.

Informasi lain yang membuat saya tercengang ternyata peserta yang mengambil mata kuliah ini tidak hanya tenaga profesional (guru) yang ada di Australia Selatan, tetapi juga dari seluruh Australia. Ada yang datang dari Queensland, Melbourne, dan lainnya. Ternyata, historisnya program ini adalah inisiatif nasional yang dikhususkan untuk pendidik dan tenaga pendidikan di seluruh Australia.

Selanjutnya, merupakan sebuah kesempatan yang langka untuk bisa mendengar sharing pengalaman dari para guru dan tenaga pendidikan secara langsung. Misalkan, beberapa guru yang berbagi pengalaman tentang bagaimana menurunnya secara drastis minat siswa dan orang tua di Australia belajar bahasa dan budaya Indonesia pascabom Bali dan beberapa penyerangan di Indonesia yang berakibat dikeluarkannya travel warning (larangan berkunjung).

Poin yang menjadi refleksi saya bahwa adanya mata kuliah ini menginformasikan kepada saya tentang betapa pentingnya Asia di mata Australia. Saking besarnya porsi saling berpengaruh Asia bagi Australia dan Australia terhadap Asia yang tidak hanya di tataran politik dan pemerintah, tetapi juga people-to-people relationship. Mereka mengajarkan peserta didik untuk melek Asia sedini mungkin. Bahkan di Universitas Flinders, studi tentang Asia ditawarkan dalam berbagai jenjang, termasuk untuk sarjana, graduate certificate, dan pascasarjana. Nah, bagi kita Indonesia sebagai salah satu negara di Asia yang memiliki posisi besar dalam berbagai lini, sepertinya belum melihat “melek Asia” ini sebagai sesuatu yang signifikan.

Padahal, pada saat bersamaan, kita tak bisa membendung bagaimana internasionalisasi dan globalisasi dalam berbagai lini kehidupan, sehingga “memaksa” kita untuk mengikutinya.

Di level Asean, misalnya, kita sudah sepakat untuk mengintegrasikan seluruh negara di Asean sebagai satu komunitas yang saling bekerja sama dalam bidang ekonomi (Asean Economic Community), politik dan keamanan (Asean Political Security Community) dan sosial-budaya (Asean Socio-Cultural Community). Sederhananya, ketika kita sudah menyatakan sepakat (yang direpresentasikan oleh pemerintah) untuk ‘bersaudara’ sesama tetangga dekat dan jauh di kawasan Asean. Kita memberikan persetujuan bahwa segala sesuatu yang ada di Asean adalah milik bersama, milik saudara kita juga (meskipun kepemilikan bersama tersebut masih terbatas pada bidang-bidang tertentu dan tidak tertutup kemungkinan melebar ke semua aspek). Artinya, sumber-sumber alam dan manusia yang ada di Asean adalah milik bersama. Pertanyaanya, jika tetangga kita punya keahlian dan kemampuan untuk mengambil sumber-sumber tersebut demi kepentingan mereka, apakah kita mampu melakukan hal yang sama?

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com