“Pesta” Musim Haji

Musim haji sudah tiba, para tamu Allah ada yang sudah, sedang, dan akan segera berangkat ke tanah suci. Para tamu Allah tersebut sudah mempersiapkan diri untuk menjalankan rukun Islam terakhir tersebut dalam waktu yang lama. Menasik haji, menghafal, belajar otodidak, menanyakan pengalaman orang-orang lain adalah sebahagian usaha yang sudah dilakukan oleh calon jamaah haji.

Saat keberangkatan sudah tiba, kloter demi kloter diberangkatkan. Jamaah haji Indonesia  tahun 2011 berjumlah 211.000 orang, terdiri kuota haji regular 194.000 orang dan kuota haji khusus 17.000 orang. Sedangkan Aceh mendapat kuota haji regular sebanyak 3.924 orang (kemenag.go.id). Dari kondisi terkini, ada fenomena menarik yang penulis tangkap ketika mengantar salah seorang guru ke mesjid kecamatan untuk berangkat ke tanah suci. Penulis melihat kondisi pada saat mengantarnya tidak berbeda jauh seperti suasana pesta intat lintoe atau tueng darabaroe. Karenanya tulisan ini penulis namai dengan “pesta” haji. Tulisan ini ingin mengupas beberapa fenomena social yang terjadi dalam musim haji sehingga calon haji atau hajjah layaknya seperti pengantin yang mahu pesta.

Pertama, persiapan yang berlebihan. Calon haji dan hajjah adalah tamu-tamu Allah dan Menjadi tamu Allah adalah impian semua orang. Bertamu dan bersilaturrahmi kerumahNya adalah keinginan yang tiada tara. Semua orang muslim pasti mempunyai keinginan untuk bisa datang kesana. Karenanya tidak heran kalau antrean untuk menjadi tamu Allah setiap tahunnya bertambah drastis. Bertahan sebagai waiting listnya mencapai pulahan tahun, bahkan tidak sedikit yang ajalnya tiba sebelum hajatan “terakhirnya” tersebut ditunaikan. Menurut data JCH sekarang, kalau provinsi-provinsi lainnya durasi menunggunya hanya 4 tahun seperti Jawa Barat, namun Aceh dan Sulsel sampai dengan 10 tahun, bahkan lebih.

Bertamu ke “rumah” Allah tentu saja tidak didefinisikan seperti bertamu pada umumnya yang kita lakukan, karenya persiapan-persiapan yang dilakukanpun harus matang. Mengambil kursus menasik haji adalah salah satu “kelas” yang diambil oleh JCH pada umumnya. Bahkan sebagian JCH tidak hanya belajara pada seorang teungku, ustad, atau ulama, tetapi juga belajar pada pada banyak guru. Disamping itu, menanyakan pengalaman mantan-mantan haji dan hajjah juga kegiatan inti yang dilakukan sebagai persiapan. Persipan lainnya adalah membeli berbagai kebutuhan untuk pra-keberangkatan, sedang di pesawat, dan salam disana.

Permasalahannya adalah ketika kesibukan-kesibukan tersebut tidak bisa dikontrol secara baik oleh JCH, maka resiko utamanya adalah kesehatan. Pada kenyataannya, hampir sebagian besar jamaah haji di Aceh adalah orang-orang yang sudah berumur 40-an, bahkan 60-an Karenanya tidak heran kalau pekerjaan rumah petugas kementerian agama bertambah untuk mengurus jamaah yang sudah lansia. Kekurang energy, tidak semangat, bahkan sakit adalah keluhan sebagian besar JCH sehingga akibatnya tidak sedikit yang tidak bisa menjalankan rukun-rukun haji karena alasan kesehatan. Dalam kondisi ini, untuk apakah persiapan-persiapan yang sudah dilakukan berbulan-bulan?. Kenapa harus belajar pada banyak teungku, kalau memang satu teungku bisa dimaksimalkan?. Akhirnya hanya nol besar yang didapatkan dan pulang sebagai teungku Haji “kosong”.Kedua

, padatnya jadwal peusijuk. Sudah menjadi budaya “permanen” kita secara turun temurun, menepung tawari (peusijuk) calon haji adalah suatu keharusan social. Terlepas dari setuju atau tidak setujunya peusijuk, penulis tidak ingin berdiskusi pada wilayah hukumnya. Pada umumnya, seorang JCH dipeusijuk tidak hanya sekali, bahkan kalau sudah mendakati jadwal keberangkatan, jam terbangnya sangat padat.  Sebut saja seorang yang berprofesi guru, biasanya yang bersangkutan akan dipeusijuk di rumahnya sendiri pertama, kemudian oleh orangtua, selanjutnya oleh sekolah tempat ia mengajar, setelah itu guru ngaji kecilnya, dilanjutkan oleh UPTD profesinya, bahkan sampe dinas pendidikan kabupaten/kota. Kalau seorang guru saja ditepung tawari hampir mencapai puluhan kali, bagaimana seorang anggota legislative atau bupati, walikota, dan pejabat sekelasnya?

Kepadatan jadwal peuseujuk juga menjadi beban tersendiri bagi JCH. Sebagian resikonya adalah tidak bisa berkonsentrasi pada substansi yang harus dipersiapkan oleh mereka secara matang. Tidak sempat mempacking barang dengan baik, tidak bisa menghafal berbagai lafal-lafal yang berkenaan dengan ibadah haji, dan sebagainya.Ketiga

yaitu euphoria pelepasan calon jamaah haji. Fenomena terkahir ini menjadi sangat menarik untuk kita diskusikan karena disinilah hiruk pikuk musim haji muncul dalam kehidupan social masyarakat Aceh pada umumnya.  Melepaskan dan mengantar CHJ adalah salah satu bentuk dukungan moral yang diberikan oleh masyarakat. Hebatnya kalau ada satu orang yang menunaikan ibadah haji, satu kampuig ikut mengantarnya, bukan hanya sampai ke kecamatan tetapi juga ke Banda Aceh. 

Walaupun tidak punya uang sendiri, meminjam uang tetanggapun dilakukan asalkan dapat berpartisipasi untuk ikut antar calon “linto haji” atau “darabaroe hajjah”.  Antusiasme, dukungan, sokongan, dan pengorbanan masyarakat, tentu saja harus kita apresiasi. Problem lain yang muncul dari interaksi social ini adalah beban ganda calon jamaah haji itu sendiri. CHJ harus memikirkan hadiah apa yang akan diberikan kepada orang yang sudah mengantarnya. Berapa helai sejadah, berapa liter air zam-zam, berapa kilogram kurma yang harus dibeli untuk dibawa pulang kepada orang kampung sebagai buah tangannya.  Pada prinsipnya, tidak ada yang salah dengan tindakan yang membalas perbuatan baik dengan baik pula, namun beban JCH akan menjadi double ketika hal tersebut dilakukan secara berlebihan. 
Fenomena terakhir adalah wasiat amanat masyarakat melalui calon haji dan hajjah. Ketika seorang calon jamaah hendak berangkat ketanah suci menunaikan ibadah haji, menarikanya sangat banyak orang berpesan dan berwasiat untuk dido’akan supaya dikabulkan keinginan mereka. Ada yang berpesan, semoga bisa menyusul naik haji, ada yang berwasiat untuk segera dikasih pasangan hidup, dan mungkin ada yang mengamanatkan untuk dido’akan bisa menang Pilkada Aceh 2011. 
Mengharapkan do’a diijabah adalah dambaan setiap orang, namun ketika do’a-do’a tersebut dititipkan secara berlebihan melalui calon jamaah haji, tidak tertutup kemungkinan ketidaksempurnaan dalam melaksanakan berbagai rukun dan sunat ibadah haji akan terjadi. Untuk itu, tulisan ini tidak bermaksud untuk mengkritisi fenomena-fenomena tersebut, karena bagaimanapun nilai-nilainya justru memberi keistimewaan sendiri bagi CHJ Aceh, namun ketika hal tersebut dilakukan secara berlebihan, dikhawatirkan nilai-nilai substansi dari ibadah haji tidak akan sempurna didapatkan. Akhirnya, selamat menunaikan ibadah haji, penulis menitipkan untuk dido’akan semoga Aceh tetap aman, damai, sejahtera, dan jaya. Amin. Muhammad Adam | Staff Pengajar Ruhul Islam Tanah Luas dan Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara.Tulisan di atas sudah dipublikasi di situs http://acehinstitute.com Edisi Rabu 19 Oktober 2011.

Please Click HERE to go through the website.