Ragu-Ragu, Nafsu dan Kesempatan

Proses pembekalan keberangatan Beasiswa Australia Awards sudah memasuki minggu-minggu terakhir bulan ke-4. Saat ini para penerima beasiswa tahun 2014/15 sedang disibukkan dengan final preference pilihan study dan universitas yang akan dilamar untuk kuliah nantinya. Untuk memberikan informasi yang lebih detil dan lanjut, pihak AAS mengadakan University Info Day dengan menghadirkan representatives dari semua Universitas yang bekerjasama dengan DFAT/AAS untuk hadir ke Indonesia dan penerima beasiswa dapat berkonsultasi secara individu kepada perwakilan tersebut. Kegiatan tersebut sudah sukses terselenggara pada tanggal 12 Agustus lalu.

Photo Credit belongs to Kak Fitriani Piter

Meskipun pilihan Field of study dan Universitas sudah dituliskan di aplikasi pendaftaran dan pada saat wawancara sedikit banyaknya sudah ditanyakan oleh tim Interviewers, namun tetap saja ada kebimbangan dan keraguan dari penerima beasiswa. Untuk Saya pribadi setidaknya bimbang dengan beberapa pertimbangan:

Pertama, Saya mimikirkan apa yang akan Saya lakukan nanti setelah menyelesaikan study. Apakah Saya akan tetap menjadi akademisi, kerja di dinas atau kantor pemerintah yang berhubungan dengan pendidikan, di NGO atau perusahaan-perusahan swasta atau multinational company lainnya. Bagi Saya yang belum masih luntang lantung, pertimbangan tempat beraktifitas menjadi konsern penting karena ini akan menentukan disiplin ilmu apa yang akan Saya pelajari di Australia.

Kalau Saya ingin menjadi dosen dengan tugas utama mengajar matakuliah-matakuliah berhubungan dengan Bahasa Inggris di Jurusan Pendidikan atau Sastra Inggris di Kampus tempat saya mengabdi sekarang atau kampus lainnya, maka pilihan Master of Teaching English to Speakers of other Languages (TESOL) atau Applied Linguistic adalah jurusan yang paling tepat supaya Saya bisa Specialized in Language and Language Teaching. Namun kalau Saya ingin mengurus hal-hal yang bersifat administrative dan majerial, seperti membuat perencanaan, mengurus managemen dan sejenisnya, maka Educational Leadership and Management adalah bidang ilmu yang cocok untuk saya pelajari. Selama ini skills managing and leading ini saya dapatkan on the process, born on the street. Kalau Saya ingin mempelejari tentang Leading and Managing People secara umum di bidang education, pilihan Master Business Administration (Education) seperti yang ditawarkan oleh Flinders University adalah pilihan yang layak untuk saya pertimbangkan kalau saya ingin bekerja di perusahan-perusahan nantinya.

Untuk memutuskannya, tidak sesederhana mengambil jemuran di terik matahari, ini menyangkut dengan masa depan dimana menjalani sisa hidup ke depan, soal kontribusi dan dedikasi. Bekerja di bidang apa, sesuai passion atau tidak juga sangat menentukan. Saya pribadi, memang tugas utama mengajar, namun pada prakteknya justru lebih banyak bersinggungan dengan urusan managing and leading. Memang tugas itu bukan tanggungjawab utama dan bukan tugas formal Saya, tapi Saya merasa lebih menikmati melakukan hal-hal yang sifatnya berusan dengan sistem, perencanaan, managemen,–malah porsi mengajarnya lebih sedikit. Mungkin salah satu penyebabnya, Saya bekerja di lembaga yang sistemnya belum well-established, masih butuh banyak inisiatif dan ide-ide, tugas dan tanggungjawab masih tumpang tindih, tidak jelas. Karenanya Saya selalu merasa terpanggil meskipun itu bukan tanggung jawab Saya. Kondisi ini juga yang membuat Saya hingga saat ini, keinginan untuk kembali ke dearah asal masih sangat tinggi. Saya berpikir akan ada banyak hal yang bisa Saya lakukan apabila saya pulang daripadi saya mengambil pekerjaan-pekerjaan di kota-kota besar atau daerah lain. Sangat banyak orang-orang hebat tidak mau pulang untuk membangun daerah dengan beragam alasan mulai dari urusan materi yang tidak layak, fasilitas yang terbatas sampai dengan hal pengakuan, penerimaan dan penghormatan dari daerah baik pemerintahnya maupun masyarakatnya.

Untuk Saya pribadi, niat kembali ke dunia kerja sekarang juga lumayan berat. Melihat atmosphir dunia kampus yang tidak sangat sehat. Para petinggi asyik memperebutkan kekuasaan. Sibuk dengan rutinitas administrative yang kaku dan terjebak dengan prosedural-prosedural. Persaingan di antara dosen yang tidak fair dan saling sikut. Berkelompok-kelompok. Kalau ada dosen yang sedikit idealis dan kritis, dianggap pembangkang kalau bersuara mengkritisi kebijakan. Oposisi dan koalisi layaknya partai politik yang berkuasa dan kalah. Begitulah potret dunia kampus yang saya amati di Aceh secara umum.

Pertimbangan selanjutnya adalah universitas yang akan dipilih. Ada sebagian kawan yang kekeh untuk tetap kuliah di Group of Eight di Australia yaitu Australian National University, University of Melbourne, Monash University, The University of Adelaide, The University of Sydney, The University of New South Wales, The University of Queensland dan The University Western Australia. Nama besar universitas penting bagi mereka karena menyangkut dengan ‘nilai tawar’ dan ‘nilai prestis’ ketika mereka mencari kerja. Sebagian lainnya tidak peduli dengan prestis universitas, toh semuanya kembali ke individu–untuk apa berenang di tengah laut, yang namanya teri tetap teri, tidak akan berubah menjadi tuna apalagi hiu. Untuk kelompok ini, mereka asyik mencocokkan matakuliah yang ingin mereka pelajari. Tidak sedikit ga yang mamasukkan pertimbangan kota/ letak perguruan tinggi bersangkutan karena itu akan mempengaruhi biaya hidup yang akan mereka keluarkan nantinya. Ada juga yang melihat teman sekelas, satu daerah atau satu jurusan karena bagi mereka dengan adanya teman dari satu derah tentu saja akan memberikan kemudahan, setidaknya ketika sakit, meskipun jelas-jelas mereka mendapat asuransi yang seharusnya tidak perlu khawatir lagi soal pelayanan. Banyak juga yang mempertimbangkan durasi program study yang akan diambil, pada umumnya mereka tidak akan mengambil program yang ditawarkan hanya 1 tahun dengan berbagai alasan mulai dari ingin tinggal lebih lama sampai dengan urusan materi. Semakin lama semakin besar kemungkinan untuk melakukan saving dari biaya hidup yang diberikan, apalagi bisa bekerja.

Untuk urusan kampus dan pilihan jurusan, Saya pribadi terpikirkan untuk mengambil combined courses di Art and Social Science yang ditawarkan oleh UNSW. Saya bisa mengambil Educational Leadership dan TESOL yang dapat Saya pelajari masing-masing 1 tahun. Memang di satu sisi memaksimal kesempatan namun Saya khawatir, keinginan untuk Hits Two Birds with a Stone adalah nafsu besar padahal tenaga kurang. Jangan-jangan dengan mengambil double degree, waktu hanya terfokus untuk kuliah dengan terus membaca buku, mengerjakan projects, menulis essays dan menyelesaikan tugas. Padahal pengalaman tinggal di luar negeri, seyogianya tidak hanya dihabiskan waktu di bangku kuliah, tapi ada banyak hal lain yang perlu disentuh dan dinikmati supaya ceritanya lengkap nanti. Sayang rasanya kalau hanya dapat gelar, but it’s not a complete journey-gak seru.

Ya apapun pertimbangan penerima beasiswa AAS tahun ini- mulai dari urusan jurusan, matakuliah, teman, lokasi kampus hingga urusan nafsu —apapun itu, memutuskannya hanya persoalan waktu- mantap atau tidak, besok hari Senin (18/7/14) semuanya harus sudah jelas-harus diputuskan. Deadline untuk submit final preferences sampai dengan pukul 9 malam.

Bismillah—mantapkan hati ini ya Allah—semoga apapun pilihanku, itu yang terbaik buat masa depanku, keluargaku, pekerjaanku, bangsaku, dan tentu saja bisa menjadi amalku. Amin.

Photo Credit belongs to Kak Fitriani Piter