Sekolah ‘khusus’ Indonesia di Pedalaman Australia

Artikel ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) edisi Senin, 26 Oktober 2015.

Sumber photo: http://indosurflife.com

Sumber photo: http://indosurflife.com

***&&&***

Tanggal 20 oktober 2015, saya bersama beberapa mahasiswa lainnya yang berjumlah sekitar 20 orang mendapat kesempatan mengunjungi salah satu sekolah di pedalaman Australia, tepatnya di Karoonda. Karoonda Area School (KAS) terletak sekitar 150 KM dari Ibu Kota Australia Selatan (Adelaide) dan kami harus menempuh perjalanan darat sekitar 4 jam untuk tiba di sekolah tersebut. Menurut keterangan kepala sekolah yang menyambut kami, Bapak Daniel Rankine, Karoonda Area School adalah sekolah pertama di Australia Selatan yang dibangun pada tahun 1915 oleh beberapa penduduk setempat yang berinisiatif untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak di Karoonda. Saat ini KAS sudah menjadi salah satu sekolah negeri dibawah Departemen Pendidikan Pemerintah Australia.

Menariknya, Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran ‘wajib’ di sekolah yang terletak sangat jauh dari hiruk pikuk industri dan kepadatan Ibu Kota Adelaide. KAS yang memeliki jenjang pendidikan mulai dari PAUD sampai dengan SMA memutuskan mengajar Bahasa Indonesia kepada murid-murid mereka berdasarkan hasil musyawarah antara dewan guru dan wali murid. Saya tidak sempat berdiskusi detil terkait alasan utama yang mendasari keputusan mereka mewajibkan bahasa Indonesia di sekolah tersebut, tapi setidaknya ada dua hal yang membuat saya tercengang karena saya mendapatkan ‘feel’ seolah-olah KAS layaknya sekolah Indonesia. Pertama, ada banyak fasilitas utama dan penunjang di sekolah yang disediakan untuk membantu pengajaran Bahasa Indonesia kepada siswa-siswi mereka. Diantaranya ada laboratorium khusus untuk Bahasa Indonesia. Di dalam lab tersebut, ada banyak poster dan gambar di sekeliling ruangan yang ditulis dalam Bahasa Indonesia. Mulai dari kata-kata sederhana seperti angka dan warna hingga kalimat-kalimat komplek dan kata bijak dalam bahasa Indonesia tersebar di sekeliling lab tersebut.

Tidak hanya itu, kedua, saya dibuat tercengang ketika kepala sekolah menjelaskan bagaimana upaya manajemen sekolah berusaha untuk menghadirkan atmosfir dan lingkungan ala Indonesia di sekolah mereka. Pihak sekolah bahkan menyediakan pekarangan khusus di halaman sekolah untuk menanam berbagai tanaman dan pohon-pohon khas Indonesia. Banyak pohon dan bunga-bunga yang diimpor dari Indonesia ditanam di areal tersebut. Bapak Daniel menjelaskan kalau inisiatif tersebut adalah bagain dari upaya mereka untuk menciptakan ‘mini’ Indonesia di lingkungan sekolah sehingga peserta didik mereka mendapat ‘sense’ tentang Indonesia dan memperkaya pengetahuan mereka tentang Indonesia.

Kesumringahan saya tidak berhenti di situ, saya menjadi semakin menggeleng-geleng kepala ketika memasuki beberapa ruang kelas yang sedang berlangsung proses belajar mengajar. Pada saat masing-masing pengunjung dari kami memperkenalkan diri dengan menyebutkan negara asal, anak-anak yang masih berusia sekitar 5 dan 6 tahun di dalam ruang kelas tersebut langsung menyapa saya dalam bahasa Indonesia. Terlihat aura ‘keakraban’ mereka dengan Indonesia ketika mereka mendengar kata ‘Indonesia’.

Karena kunjungan yang berlangsung sekitar 8 jam tersebut terpusat secara alamiah pada Indonesia, dosen dan teman-teman kuliah saya yang berasal dari berbagai belahan bumi (sekitar 13 negara) akhirnya memperbincangkan dengan serius tentang mempelajari Bahasa Indonesia. Teman-teman saya dari India, Ghana, Malawi, Seychelles, Saudi Arabia hingga Ekuwador mendapati keheranan yang mendalam dan berkeinginan untuk belajar bahasa Indonesia. Suasana tersebut menjadi lebih dramatis karena kepala sekolah KAS Mr. Daniel adalah guru utama Bahasa Indonesia di sekolah tersebut. Berdasarkan pengalaman pribadi, Mr. Daniel menuturkan bahwa Bahasa Indonesia adalah salah satu bahasa yang paling mudah untuk dipelajari.

Beberapa Lesson-Learns

Di luar perbincangan tentang Bahasa Indonesia, ada beberapa pelajaran menarik yang saya dapatkan dari kunjungan ke sekolah tersebut. Pertama, Karoonda Area School terbilang unik dari pengelompokan siswa dalam ruagan. Selain kelas 1 dan 2, mereka menempatkan siswa yang terdiri dari beberapa kelas dalam satu ruangan (misalkan kelas 4, 5, dan 6 dalam satu kelas). Ketika kami menyatakan bahwa penggabungan siswa dari beberapa jenjang dalam satu ruangan akan memiliki banyak kesulitan, dia mengiyakan namun dia juga mengatakan bahwa ini adalah salah satu inovasi pedagogi yang berhasil mereka lakukan meskipun banyak tantangan. Bagi saya yang sedang belajar managemen dan kepimpinan pendidikan (Educational Leader and Management), saya melihat ada ‘kekuasaan’ fleksibel yang dimiliki oleh sekolah dalam menjelankan peraturan dan instruksi dari ‘atas’ sesuai kebutuhan lokal. Asumsi saya, KAS yang terletak di kawasan pertanian tidak banyak memiliki siswa karena penduduknya juga tidak banyak. Untuk alasan efesiensi anggaran, mereka menerapkan mixing classs sebagai salah satu upaya untuk memastikan keberlanjutan sekolah tersebut, jika tidak besar kemungkinan akan ditutup sekolahnya karena tidak sanggup beroperasi. Bagi saya ini adalah terobasan yang inovatif untuk memenuhi kebutuhan penduduk setempat untuk jangka waktu yang panjang (local sustainability).

Karoonda Area School, poin kedua, juga memiliki area khusus yang deperuntukkan untuk pengajaran pertanian (agriculture knowledge). Di dalamnya ada beberapa program utama yang diajarkan seperti ilmu seputar hewani semisal domba (sheep) dan unggas (poultry) dan juga ilmu nabati seperti cropping (ilmu bercocok tanam) dan ilmu tentang buah-buahan. Kepala sekolahnya menyebutkan bahwa area ini diperuntukkan khusus untuk mensinergikan antara pengalaman empiris—yang dijalani oleh peserta didik mereka sehari-hari yang hidupnya bergantung pada ladang dan hewan—dan ilmu akademik yang mereka pelajari di sekolah. Harapannya adalah mengintegrasikan antara pola pikir bertani ‘tradisional’ dengan pola pikir akademis di dalam peserta didik mereka sedini mungkin.

Terakhir, saya takjub bagaimana pihak sekolah menghargai prestasi setiap anak. Sesuai nilai-nilai yang sekolah tersebut pegang (honesty, respect, success), mereka sangat serius dalam mengapresiasi kelebihan anak didik mereka. Setiap siswa yang memiliki prestasi sekecil apapun dalam bidang apa saja (tidak harus science), pihak sekolah mengabadikan nama-nama siswa tersebut di dinding bagian luar ruangan kelas. Nama yang diukir khusus di atas plat berbahan besi tersebut dipublikasi besar-besaran adalah salah satu cara bagi sekolah untuk mengenang prestasi peserta didik mereka dan juga sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan minat belajar siswa lainnya. Sungguh pengalaman yang luar biasa!!!