Semakin Jauh-Semakin Rindu

Memasuki hari-hari terakhir bulan ramadhan, lebaran seolah-oleh besok pagi. Hiruk pikuk masyarakat, terutama yang beragama Islam terlihat sangat sibuk dengan kesiapan menyambut lebaran. Ibu-ibu sibuk dengan persiapan kue dan makanan untuk menyambut tamu yang berkunjung. Bapak-bapak semakin tidak sabaran menunggu THR dan gajian untuk membeli baju baru buat putra-putri tercinta. Anak-anak gadis, terutama, di desa-desa sibuk dengan dekorasi mempercantik rumah seperti memotong rumput halaman. Yang lelakinya juga tidak lupa kebagian tugas seperti mengecat pagar. Kakek-Nenek juga juga sibuk mencari uang receh untuk salam tempel buat cucu-cucunya.

Bagi mereka yang tinggal jauh, merantau atau mengadu nasib di kota jauh lebih sibuk. Berpuasa di akhir-akhir ramadhan nampaknya tidak sesusah berdesak-desakan mencari tiket kereta atau bus untuk mudik. Panasnya matahari tidak mengurangi semangat mereka untuk mencari satu atau dua buah tangan sebagai oleh-oleh untuk orangtua dan sanak saudara di kampung halaman.

Timpan | Salah Satu Makanan Pokok Ketika Lebaran di Aceh

Ah indahnya kekuatan bulan ramadhan-memang tiada tara.

Melihat antusiasme orang-orang menyambut hari raya idul fitri tiba-tiba mengingatkan Saya kepada orangtua dan kampung halaman. Rasa kangen semakin tidak terbendung ketika melihat kawan-kawan sejawat yang juga menunjukkan seolah-olah tidak sabar ingin pulang. Well, frankly speaking, Saya memang dibesarkan di keluarga dan lingkungan yang tidak biasa mengutarakan rasa kangen kepada orangtua atau adik-kakak-abang secara langsung dan vulgar seperti berpelukan dan mencium pipi kanan dan kiri atau tidur di pelukan orangtua atau mengatakan ‘Ma, Saya kangen, Saya rindu Papa dan diakhiri dengan obrolan Muachh di ujung telpon’ atau sejenisnya. Hukum yang sama juga berlaku seperti hari ulang tahun atau memperingati hari pernikahan bagi mereka yang sudah menikah. Memberikan hadiah kepada orangtua atau kepada pasangan hampir tidak pernah kita lakukan.  Saya tidak tau apa yang membuat hal-hal seperti itu tabu dan aneh bahkan menggelikan kalau di lingkungan kita. Tapi begitulah tatacara orang tua dan lingkungan membesarkan kami selama ini- menunjukkan keintiman hubungan keluarga dan bersaudara dengan cara yang berbeda.

DSC01747

My Sister’s wedding party | Feb 2014

Saya pribadi tidak melakukan lebih selain hanya mencium lutut mereka pada hari lebaran. Untuk ekspresi verbal, teringat saya, masih dalam hitungan jari saya mengucapkan ‘kangen’ atau ‘ingin ketemu mereka’. Kami punya cara tersendiri untuk mengekpresikan rasa rindu kepada keluarga ketika bersama, misalkan pada masa-masa lebaran. Berkumpul dua atau tiga hari, makan-makan (nasi meugang atau timpan), menghabiskan malam bersama di rumah yang paling dituakan, berkunjung ketempat kakek nenek dan berziarah ke kuburan rasanya sudah terbayar masa-masa jauh dari mereka selama setahun terakhir. Mungkin tidak ada yang special kesannya, tapi bagi saya pribadi—ini memiliki nilai dan esensi yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. *ah lebay banget ya*

So apa yang membuat lebaran tahun ini terasa berbeda? ada perasaan tidak sabar ingin pulang untuk menyambut lebaran tahun ini. Hari ini adalah ramadhan ke-23 rasanya sudah tidak sabar ingin menikmati malam takbiran di kampung halaman. Perasaan tidak sabar ini bukan disebabkan karena saya tidak menjalankan ibadah puasa bersama orangtua tahun ini, tetapi karena jarak tempat tinggal kita yang jauh, setidaknya bagi saya. FYI— sudah tiga bulan saya Stay di Jakarta untuk mengikuti training pembekalan keberangkatan melanjutkan S-2 dan masih akan berlangsung sampai akhir oktober mendatang.

Pada dasarnya a sudah sering saya bepergian dan honestly speaking Saya sudah tidak tinggal bersama orangtua semenjak menempuh pendidikan menengah atas. Dan selama itu pula saya tidak shalat Ied bersama keluarga di desa. Karena saya tinggal di sekolah yang berasrama, jadinya hampir setiap lebaran saya menunaikan shalat ied di komplek sekolah bersama dewan guru dan orang-orang yang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Jadi, absen dari shalat Ied bersama keluarga itu sudah biasa.

Namun masalahnya sekarang, Jakarta terkesan bagitu jauh bagi saya untuk menikmati rasa kebersamaan bersama orangtua. Mungkin kesannya manja dan lemah, tetapi saya menuliskan ini untuk mengambarkan bagaimana perbedaan perasaan itu ketika saya berpisah tetapi dekat karena di Aceh dan sekarang berpisah tetapi dalam destinasi yang lebih jarak. Pelajaran moralnya *kedekatan seharusnya tidak melunturkan nilai-nilai kebersamaan. Rasa tidak sabar ingin pulang seyogianya tidak hanya muncul ketika kita jauh. Nilai kekangenan seharusnya tidak ditentukan oleh jauh dan dekatnya kita dengan orangtua.

Melalui blog ini, izinkan saya mengucapkan rasa kangen ini dengan I miss you Ma and Pa. A big hug for my brother and sisters. Can’t wait to meet you soon.