Sikap Mahasiswa Aceh di Australia atas Pernyataan PM Abbott

Berikut ini adalah pandangan  saya tentang kisruh pernyataan PM Tony Abbott, kasus narkoba dan gerakan pengumpulan koin. Saya posting pendapat-pendapat saya sebelumnya di BLOG ini. Salah satu teman saya yang berprofesi sebagai wartawan kemudian merelease nya di media online Viva News.
Ini adalah versi media—yang versi lengkapnya bisa anda baca di blog saya atau click HERE.
Terimakasih

Photo dari: pamongreaders.com

Hadi Suprapto,  Zulfikar Husein (Lhokseumawe) Selasa, 24 Februari 2015, 11:40 WIB

VIVA.co.id – Mahasiswa asal Aceh yang sedang melanjutkan studi di Australia berharap hubungan antara Indonesia dan Australia tidak terganggu karena pernyataan Tony Abbott soal bantuan tsunami. Mahasiswa juga mengapresiasi aksi mengumpulkan koin yang dilakukan di Indonesia.

“Saya merasa sedih mendengar pernyataan PM Tony Abbott yang terkesan meminta balas jasa atas bantuan tsunami yang sudah diberikan. Gerakan Warga #KoinUntukAustralia di media sosial dan dunia nyata layak diapresiasi,” kata Muhammad Adam kepada VIVA.co.id, Selasa, 24 Februari 2015.

Mahasiswa yang juga merupakan korban tsunami pada 2004 silam ini menilai penting memikirkan lagi manfaat dari gerakan tersebut. Ia berharap, gerakan itu tidak sampai menjadi blunder bagi hubungan kedua negara.

Adam juga menyesalkan pernyataan PM Australia Tony Abbott. Ia menilai, sebagai seorang pemimpin, Tony Abbott tidak sepantasnya bersikap seperti itu. “Sebagai seorang pemimpin, saya pikir pernyataan PM Abbott tersebut kurang bijak,” kata dia.

Secara pribadi, kata Adam, ia melihat kasus terpidana mati Bali Nine dan tsunami berbeda. Kata dia, dana tsunami adalah bantuan yang diberikan atas dasar kemanusiaan dan tidak hanya Australia yang membantu Aceh dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami.

“Ada puluhan negara lainnya yang ikut terlibat membantu Aceh pasca diporak-porandakan oleh gempa dan gelombang Tsunami tahun 2004.  Sedangkan rencana mengeksekusi mati pengedar narkoba adalah kasus kriminal,” katanya.

Ia berharap baik Pemerintah Australia dan Indonesia untuk taat pada hukum masing-masing negara, tidak terkecuali untuk kasus kejahatan narkoba. Sebab menurutnya, efek narkoba memang memiliki risiko mahal yang harus ditanggung.