Informasi Beasiswa Australia Awards 2018/19

Kabar gembira..kepada para calon pelamar beasiswa Australia Awards Indonesia tahun 2018/19, beasiswa AAI akan dibuka per 1 Februari 2018 dan ditutup 30 April 2018.

 

Apa itu beasiswa Australia awards?

Kenapa saya harus mendaftar AAI?

Apa saja syaratnya?

Bagaimana cara mendaftar?

dll….

 

silakan unduh informasi lengkapnya di SINI.

 

Semoga bermanfaat ya…

***&&&***

Rencananya kita akan lakukan online seminar untuk bincang-bincang seputar Beasiswa Australia Awards Indonesia. Untuk jadwalnya, akan kami update di page #LancarEnglish https://m.facebook.com/LancarEnglish 

***&&&***

Selama proses belajar 2 tahun di Australia, saya sempat menulis beberapa citizen reporter tentang Australia. Jika mau baca untuk mendapatkan beberapa informasi awal, silakan scroll di artikel-artikel saya yang sudah dimuat di Media massa. Linknya ini ya http://bangadam.com/category/published-article/

 

Eksklusif! Untuk Calon Pendaftar Muslim Exchange Program ke Australia

Insya Allah, hari Senin tanggal 4 September 2017 pukul 17.00-18.00 WIB, kita akan live streaming dari ruang studio Inspirasi.co TV. Untuk teman-teman yang ingin bergabung silakan LIKE page MEP http://facebook.com/ausindom  dan stay tune dari pukul 17.00. Alumni yang akan mengisi diskusi kali ini adalah Mas Fahd Pahdepie (MEP 2011), Mba Ienas Tsoraya (MEP 2003) dan Ustazah kondang yang juga alumni MEP tahun 2017 Mbak Oky Setiana Dewi (Mba Oky akan live dari Mekah).

***&&&***

Promosi Online Seminar MEP

Saya tidak menduga ternyata yang tertarik mengikuti Seminar Online Muslim Exchange Program Australia – Indonesia membludak. Dalam tempo kurang dari 10 jam semenjak informasinya dipublikasi, kuota sudah penuh bahkan lebih untuk satu grup WhatsApp. Jumlah WA yang masuk ke saya sudah mencapai di atas angka 2000an. Luar biasa. Fantastic. Awalnya ini hanya inisiatif pribadi saja untuk memberikan ruang kepada teman-teman yang tertarik mendaftar MEP untuk berdiskusi. Jadi tidak ada tim khusus yang dipersiapkan untuk mengorganisir diskusi ini. Oleh karena membludaknya respon, jujur saya kewalahan karena harus merespon satu-satu dari bawah (yang duluan masuk WAnya). Jadi mohon maaf jika ada teman-teman yang sudah mengirimkan WA tetapi belum saya respon. Karena memang sangat banyak WA yang masuk.

Untuk membantu teman-teman yang tidak tertampung dalam diskusi grup WA, semoga informasi yang saya sampaikan di bawah ini akan membantu.

 

Apa sih program MEP itu dan apa tujuannya? Continue reading

Online Seminar Muslim Exchange Program; Informasi Awal

Pertama, penting untuk anda ketahui bahwa MEP adalah program yang didanai oleh pemerintah Australia melalui Australia Indonesia Institute. Di Indonesia, pihak yang melakukan seleksi program MEP adalah Universitas Paramadina Jakarta. Saat ini sedang dibuka pendaftaran untuk keberangkatan tahun 2018. Pendaftaran akan ditutup pada Jumat, 8 September 2017.

Tour di sela-sela program MEP di Sydney ke Opera House Sydney

Sebagai salah satu alumni, setiap tahun saya menyebarkan informasi tentang program Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia (Muslim Exchange Program) melalui sosial media. Saya menemukan banyak teman-teman Continue reading

Pensiunan pun Bisa Kuliah di Australia

Citizen Reporter  ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) edisi Kamis, 16 Juni 2016 . Silakan klik DI SINI untuk membaca di laman Serambi Indonesia.

 

sumber gambar: http://izquotes.com/quote/128559

sumber gambar: http://izquotes.com/quote/128559

OLEH MUHAMMAD ADAM, putra Seunuddon, Aceh Utara, melaporkan dari Australia

ADA beberapa hal menarik dari topik (mata kuliah) yang saya pelajari semester ini di Universitas Flinders, Australia, yaitu Studies of Asia Across the Curriculum. Topik ini ditawarkan secara nonregular oleh universitas yang berada di selatan Australia ini.

Secara substansi, mata kuliah tersebut memberikan kesempatan kepada para pendidik dan tenaga kependidikan di Australia untuk mempelajari Asia dan kesalingkaitannya dengan Australia dalam berbagai aspek. Termasuk aspek bahasa, seni, dan sosial-budaya, politik dan demokrasi, agama, ekonomi, perdagangan, etnis, adat, sistem pemerintahan, sistem pendidikan, struktur sosial masyarakat, sejarah, geografi, demografi, dan lainnya.

Pengetahuan dan pemahaman kognisi Continue reading

Sekolah ‘khusus’ Indonesia di Pedalaman Australia

Artikel ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) edisi Senin, 26 Oktober 2015.

Sumber photo: http://indosurflife.com

Sumber photo: http://indosurflife.com

***&&&***

Tanggal 20 oktober 2015, saya bersama beberapa mahasiswa lainnya yang berjumlah sekitar 20 orang mendapat kesempatan mengunjungi salah satu sekolah di pedalaman Australia, tepatnya di Karoonda. Karoonda Area School (KAS) terletak sekitar 150 KM dari Ibu Kota Australia Selatan (Adelaide) dan kami harus menempuh perjalanan darat sekitar 4 jam untuk tiba di sekolah tersebut. Menurut keterangan kepala sekolah yang menyambut kami, Bapak Daniel Rankine, Karoonda Area School adalah sekolah pertama di Australia Selatan yang dibangun pada tahun 1915 oleh beberapa penduduk setempat yang berinisiatif untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak di Karoonda. Saat ini KAS sudah menjadi salah satu sekolah negeri dibawah Departemen Pendidikan Pemerintah Australia.

Menariknya, Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran ‘wajib’ Continue reading

Ragu-Ragu, Nafsu dan Kesempatan

Proses pembekalan keberangatan Beasiswa Australia Awards sudah memasuki minggu-minggu terakhir bulan ke-4. Saat ini para penerima beasiswa tahun 2014/15 sedang disibukkan dengan final preference pilihan study dan universitas yang akan dilamar untuk kuliah nantinya. Untuk memberikan informasi yang lebih detil dan lanjut, pihak AAS mengadakan University Info Day dengan menghadirkan representatives dari semua Universitas yang bekerjasama dengan DFAT/AAS untuk hadir ke Indonesia dan penerima beasiswa dapat berkonsultasi secara individu kepada perwakilan tersebut. Kegiatan tersebut sudah sukses terselenggara pada tanggal 12 Agustus lalu.

Photo Credit belongs to Kak Fitriani Piter

Meskipun pilihan Field of study dan Universitas sudah dituliskan di aplikasi pendaftaran dan pada saat wawancara sedikit banyaknya sudah ditanyakan oleh tim Interviewers, namun tetap saja ada kebimbangan dan keraguan dari penerima beasiswa. Untuk Saya pribadi setidaknya bimbang dengan beberapa pertimbangan:

Pertama, Saya mimikirkan apa yang akan Saya lakukan nanti setelah menyelesaikan study. Apakah Saya akan tetap menjadi akademisi, kerja di dinas atau kantor pemerintah yang berhubungan dengan pendidikan, di NGO atau perusahaan-perusahan swasta atau multinational company lainnya. Bagi Saya yang belum masih luntang lantung, pertimbangan tempat beraktifitas menjadi konsern penting karena ini akan menentukan disiplin ilmu apa yang akan Saya pelajari di Australia.

Kalau Saya ingin menjadi dosen dengan tugas utama mengajar matakuliah-matakuliah berhubungan dengan Bahasa Inggris di Jurusan Pendidikan atau Sastra Inggris di Kampus tempat saya mengabdi sekarang atau kampus lainnya, maka pilihan Master of Teaching English to Speakers of other Languages (TESOL) atau Applied Linguistic adalah jurusan yang paling tepat supaya Saya bisa Specialized in Language and Language Teaching. Namun kalau Saya ingin mengurus hal-hal yang bersifat administrative dan majerial, seperti membuat perencanaan, mengurus managemen dan sejenisnya, maka Educational Leadership and Management adalah bidang ilmu yang cocok untuk saya pelajari. Selama ini skills managing and leading ini saya dapatkan on the process, born on the street. Kalau Saya ingin mempelejari tentang Leading and Managing People secara umum di bidang education, pilihan Master Business Administration (Education) seperti yang ditawarkan oleh Flinders University adalah pilihan yang layak untuk saya pertimbangkan kalau saya ingin bekerja di perusahan-perusahan nantinya.

Untuk memutuskannya, tidak sesederhana mengambil jemuran di terik matahari, ini menyangkut dengan masa depan dimana menjalani sisa hidup ke depan, soal kontribusi dan dedikasi. Bekerja di bidang apa, sesuai passion atau tidak juga sangat menentukan. Saya pribadi, memang tugas utama mengajar, namun pada prakteknya justru lebih banyak bersinggungan dengan urusan managing and leading. Memang tugas itu bukan tanggungjawab utama dan bukan tugas formal Saya, tapi Saya merasa lebih menikmati melakukan hal-hal yang sifatnya berusan dengan sistem, perencanaan, managemen,–malah porsi mengajarnya lebih sedikit. Mungkin salah satu penyebabnya, Saya bekerja di lembaga yang sistemnya belum well-established, masih butuh banyak inisiatif dan ide-ide, tugas dan tanggungjawab masih tumpang tindih, tidak jelas. Karenanya Saya selalu merasa terpanggil meskipun itu bukan tanggung jawab Saya. Kondisi ini juga yang membuat Saya hingga saat ini, keinginan untuk kembali ke dearah asal masih sangat tinggi. Saya berpikir akan ada banyak hal yang bisa Saya lakukan apabila saya pulang daripadi saya mengambil pekerjaan-pekerjaan di kota-kota besar atau daerah lain. Sangat banyak orang-orang hebat tidak mau pulang untuk membangun daerah dengan beragam alasan mulai dari urusan materi yang tidak layak, fasilitas yang terbatas sampai dengan hal pengakuan, penerimaan dan penghormatan dari daerah baik pemerintahnya maupun masyarakatnya.

Untuk Saya pribadi, niat kembali ke dunia kerja sekarang juga lumayan berat. Melihat atmosphir dunia kampus yang tidak sangat sehat. Para petinggi asyik memperebutkan kekuasaan. Sibuk dengan rutinitas administrative yang kaku dan terjebak dengan prosedural-prosedural. Persaingan di antara dosen yang tidak fair dan saling sikut. Berkelompok-kelompok. Kalau ada dosen yang sedikit idealis dan kritis, dianggap pembangkang kalau bersuara mengkritisi kebijakan. Oposisi dan koalisi layaknya partai politik yang berkuasa dan kalah. Begitulah potret dunia kampus yang saya amati di Aceh secara umum.

Pertimbangan selanjutnya adalah universitas yang akan dipilih. Ada sebagian kawan yang kekeh untuk tetap kuliah di Group of Eight di Australia yaitu Australian National University, University of Melbourne, Monash University, The University of Adelaide, The University of Sydney, The University of New South Wales, The University of Queensland dan The University Western Australia. Nama besar universitas penting bagi mereka karena menyangkut dengan ‘nilai tawar’ dan ‘nilai prestis’ ketika mereka mencari kerja. Sebagian lainnya tidak peduli dengan prestis universitas, toh semuanya kembali ke individu–untuk apa berenang di tengah laut, yang namanya teri tetap teri, tidak akan berubah menjadi tuna apalagi hiu. Untuk kelompok ini, mereka asyik mencocokkan matakuliah yang ingin mereka pelajari. Tidak sedikit ga yang mamasukkan pertimbangan kota/ letak perguruan tinggi bersangkutan karena itu akan mempengaruhi biaya hidup yang akan mereka keluarkan nantinya. Ada juga yang melihat teman sekelas, satu daerah atau satu jurusan karena bagi mereka dengan adanya teman dari satu derah tentu saja akan memberikan kemudahan, setidaknya ketika sakit, meskipun jelas-jelas mereka mendapat asuransi yang seharusnya tidak perlu khawatir lagi soal pelayanan. Banyak juga yang mempertimbangkan durasi program study yang akan diambil, pada umumnya mereka tidak akan mengambil program yang ditawarkan hanya 1 tahun dengan berbagai alasan mulai dari ingin tinggal lebih lama sampai dengan urusan materi. Semakin lama semakin besar kemungkinan untuk melakukan saving dari biaya hidup yang diberikan, apalagi bisa bekerja.

Untuk urusan kampus dan pilihan jurusan, Saya pribadi terpikirkan untuk mengambil combined courses di Art and Social Science yang ditawarkan oleh UNSW. Saya bisa mengambil Educational Leadership dan TESOL yang dapat Saya pelajari masing-masing 1 tahun. Memang di satu sisi memaksimal kesempatan namun Saya khawatir, keinginan untuk Hits Two Birds with a Stone adalah nafsu besar padahal tenaga kurang. Jangan-jangan dengan mengambil double degree, waktu hanya terfokus untuk kuliah dengan terus membaca buku, mengerjakan projects, menulis essays dan menyelesaikan tugas. Padahal pengalaman tinggal di luar negeri, seyogianya tidak hanya dihabiskan waktu di bangku kuliah, tapi ada banyak hal lain yang perlu disentuh dan dinikmati supaya ceritanya lengkap nanti. Sayang rasanya kalau hanya dapat gelar, but it’s not a complete journey-gak seru.

Ya apapun pertimbangan penerima beasiswa AAS tahun ini- mulai dari urusan jurusan, matakuliah, teman, lokasi kampus hingga urusan nafsu —apapun itu, memutuskannya hanya persoalan waktu- mantap atau tidak, besok hari Senin (18/7/14) semuanya harus sudah jelas-harus diputuskan. Deadline untuk submit final preferences sampai dengan pukul 9 malam.

Bismillah—mantapkan hati ini ya Allah—semoga apapun pilihanku, itu yang terbaik buat masa depanku, keluargaku, pekerjaanku, bangsaku, dan tentu saja bisa menjadi amalku. Amin.

Photo Credit belongs to Kak Fitriani Piter