Informasi Beasiswa Australia Awards 2018/19

Kabar gembira..kepada para calon pelamar beasiswa Australia Awards Indonesia tahun 2018/19, beasiswa AAI akan dibuka per 1 Februari 2018 dan ditutup 30 April 2018.

 

Apa itu beasiswa Australia awards?

Kenapa saya harus mendaftar AAI?

Apa saja syaratnya?

Bagaimana cara mendaftar?

dll….

 

silakan unduh informasi lengkapnya di SINI.

 

Semoga bermanfaat ya…

***&&&***

Rencananya kita akan lakukan online seminar untuk bincang-bincang seputar Beasiswa Australia Awards Indonesia. Untuk jadwalnya, akan kami update di page #LancarEnglish https://m.facebook.com/LancarEnglish 

***&&&***

Selama proses belajar 2 tahun di Australia, saya sempat menulis beberapa citizen reporter tentang Australia. Jika mau baca untuk mendapatkan beberapa informasi awal, silakan scroll di artikel-artikel saya yang sudah dimuat di Media massa. Linknya ini ya http://bangadam.com/category/published-article/

 

Eksklusif! Untuk Calon Pendaftar Muslim Exchange Program ke Australia

Insya Allah, hari Senin tanggal 4 September 2017 pukul 17.00-18.00 WIB, kita akan live streaming dari ruang studio Inspirasi.co TV. Untuk teman-teman yang ingin bergabung silakan LIKE page MEP http://facebook.com/ausindom  dan stay tune dari pukul 17.00. Alumni yang akan mengisi diskusi kali ini adalah Mas Fahd Pahdepie (MEP 2011), Mba Ienas Tsoraya (MEP 2003) dan Ustazah kondang yang juga alumni MEP tahun 2017 Mbak Oky Setiana Dewi (Mba Oky akan live dari Mekah).

***&&&***

Promosi Online Seminar MEP

Saya tidak menduga ternyata yang tertarik mengikuti Seminar Online Muslim Exchange Program Australia – Indonesia membludak. Dalam tempo kurang dari 10 jam semenjak informasinya dipublikasi, kuota sudah penuh bahkan lebih untuk satu grup WhatsApp. Jumlah WA yang masuk ke saya sudah mencapai di atas angka 2000an. Luar biasa. Fantastic. Awalnya ini hanya inisiatif pribadi saja untuk memberikan ruang kepada teman-teman yang tertarik mendaftar MEP untuk berdiskusi. Jadi tidak ada tim khusus yang dipersiapkan untuk mengorganisir diskusi ini. Oleh karena membludaknya respon, jujur saya kewalahan karena harus merespon satu-satu dari bawah (yang duluan masuk WAnya). Jadi mohon maaf jika ada teman-teman yang sudah mengirimkan WA tetapi belum saya respon. Karena memang sangat banyak WA yang masuk.

Untuk membantu teman-teman yang tidak tertampung dalam diskusi grup WA, semoga informasi yang saya sampaikan di bawah ini akan membantu.

 

Apa sih program MEP itu dan apa tujuannya? Continue reading

Sekolah ‘khusus’ Indonesia di Pedalaman Australia

Artikel ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) edisi Senin, 26 Oktober 2015.

Sumber photo: http://indosurflife.com

Sumber photo: http://indosurflife.com

***&&&***

Tanggal 20 oktober 2015, saya bersama beberapa mahasiswa lainnya yang berjumlah sekitar 20 orang mendapat kesempatan mengunjungi salah satu sekolah di pedalaman Australia, tepatnya di Karoonda. Karoonda Area School (KAS) terletak sekitar 150 KM dari Ibu Kota Australia Selatan (Adelaide) dan kami harus menempuh perjalanan darat sekitar 4 jam untuk tiba di sekolah tersebut. Menurut keterangan kepala sekolah yang menyambut kami, Bapak Daniel Rankine, Karoonda Area School adalah sekolah pertama di Australia Selatan yang dibangun pada tahun 1915 oleh beberapa penduduk setempat yang berinisiatif untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak di Karoonda. Saat ini KAS sudah menjadi salah satu sekolah negeri dibawah Departemen Pendidikan Pemerintah Australia.

Menariknya, Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran ‘wajib’ Continue reading

GERAKAN MARI SEKOLAH: FREQUENTLY ASKED QUESTION

Berhubung GMS belum memiliki laman resmi, kami memutuskan untuk posting informasi tentang GMS di halaman ini dengan tujuan untuk memudahkan dalam penyebaran informasi tentang GMS. Anda juga dapat mengunduh informasi ini di link berikut https://app.box.com/Informasitentanggms atau click di SINI.

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan (FAQ) tentang Gerakan Mari Sekolah. FAQ ini dibagi dalam 5 katagori yaitu (1) Dasar-Dasar Umum tentang GMS; (2) Informasi seputar anak-anak penerima beasiswa; (3) Informasi untuk donator; (4) Informasi untuk Pendamping anak; dan (5) Informasi lebih lanjut tentang GMS.  Continue reading

Informasi Beasiswa LPSDM Aceh Tahun 2014 plus Catatan Reflektif

 
Kegiatan Belajar English by Nature-Plus Institute

Kegiatan Belajar English by Nature-Plus Institute

Note >>>

 
Beasiswa dari Pemerintah Aceh yang dikelola oleh Lembaga Peningkatan Sumber Daya Manusia (LPSDM) Provinsi Aceh adalah beasiswa rutin yang disediakan oleh Pemerintah Aceh sebagai salah satu upaya untuk memajukan Aceh dan Indonesia pada umumnya. Beasiswa ini sudah berlangsung semenjak tahun 2005.  Saya yakin sistem pengelolaan beasiswa untuk mencerdaskan aneuk nanggroe ini terus membaik seiring dengan pembenan manajemen LPSDM.
Untuk persyaratannya tahun ini lebih ketat-terutama dari segi kemampuan bahasa. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, masyarakat Aceh yang ingin mendaftar tahun ini harus yang sudah siap untuk melanjutkan study, artinya kalau lulus seleksi-yang bersangkutan tidak harus dikarantina untuk menempa kemampuan bahasa Asing (Inggin dan Arab). Asusmsi Saya LPSDM memiliki dua pertimbangan kenapa LPSDM tidak memfasilitas program Pembakalan bahasa dalam waktu yang lama seperti biasanya; [1] LSPDM tidak punya dana [2] LPSDM hanya ingin menyeleksi orang-orang yang sudah bermasalah lagi dari segi bahasa.
Apapun pertimbangan pihak Pemerintah Aceh, Saya yakin beasiswa untuk mencerdaskan aneuk nanggroe ini akan terus semakin kompetitif seiring waktu. Untuk itu, jika anda punya keinginan atau impian untuk melanjutkan study, terutama ke Luar Negeri, jalan satu-satunya adalah mempersiapkan diri anda, terutama mempesiapkan kemampuan bahasa asing, khususnya Arab dan Inggris. Kalau anda hanya ‘panas’ dan ‘sibuk’ ketika beasiswa itu diumumkan dan setelah itu semangat anda menghilang seiring angin menghembus, Saya takut keinginan untuk study hanya ada di dalam pikiran anda dan hanya impian yang membuat anda terus menderita, bukan malah membuat anda termotivasi untuk belajar.
Karena proses pembentukan kemampuan Bahasa membutuhkan waktu, yakinlah tidak ada lembaga atau orang di manapun yang bisa men sin-sa-la-bin otak anda dari Big Zero dan mahir ber cas cis cus dalam 2 atau 3 minggu. It takes time and process- you have to sacrifice both time and materials. Kalau anda sudah memiliki kemampuan bahasa yang sudah siap untuk melanjutkan study-saya yakin hanya masalah waktu, anda akan memegang tiket dan berangkat. Intinya, sekarang anda mau bergerak dan memulai melakukan sesuatu yang bisa mendekatkan diri anda dengan mimpi anda atau tetap duduk di warung kupi dan menceritakan impian-impian anda kepada orang-orang. Sudah cukup orang-orang menanam padi atau cabe di warung kopi, jangan anda tambahkan lagi dengan menanam cita-cita kuliah di luar negeri.
Terakhir, buat kawan-kawan yang tinggal di seputaran Aceh Utara dan Lhokseumawe, kalau anda punya keinginan untuk belajar Bahasa Inggris baik TOEFL (Test of English as Foreing Language) maupun General English, Plus Institute menyediakan layanannya. Plus Institute adalah lembaga kursus bahasa Inggris rintisan Saya bersama kawan-kawan yang melihat bahwa menguasai bahasa Asing (Bahasa Inggris) tidak hanya sekedar ‘sunnah’ tetapi kami melihatnya sesuatu yang wajib-it is a must- kalau anda ingin berkompetisi memperebutkan beasiswa atau study di luar Negeri, tentu tidak terbatas untuk kerja. 
Kalau anda tertarik, silakan datang langsung ke Plus Institute Lhokseumawe dengan alamat:

Rahmania Foundation-SEPAKAT Training Center

Blang Panyang-Muara Satu, Lhokseumawe

(Sekitar 200 M dari SPBU Blang Panyang dari Lhokseumawe)
Call/SMS ke : 0823-6758-3491 (Ms. Cut Erni)

                          0852-6024-3140 (Sir Bahrul Walidin)

So…silakan anda pikirkan ulang, kalau anda menganggap postingan ini hanya sekedar promosi, maka abaikan saja. Tapi Saya yakin satu hal bahwa SIAPA yang MENANAM, DIA lah yang MEMETIK. Kalau anda tidak tanam tapi anda memetiknya, itu namanya MENCURI.he…*Peace Man*.
Yakinlah, tidak ada usaha baik itu yang rugi,  apalagi sia-sia. Anda belajar bahasa Inggris, mengorbankan waktu dan uang, maka itu adalah investasi untuk masa depan anda. Mewujudkan harapan butuh usaha dan pengorbanan serta strategi.  Tahun ini anda berkorban, fokus belajar belajar, mempersiapkan kemampuan Bahasa sambil mencari informasi tentang Negara, Universitas, Jurusan dan informasi-informasi sejenisnya—tahun depan anda mendaftar dengan kemampuan nilai IELTS 6.5 atau TOEFL 550 di tangan. Pada saat itulah anda akan merasakan kenikmatan dan investasi anda akan terbayar. Tapi, kalau tahun ini anda membaca Informasi beasiwa ini, anda mengeluh tidak bisa mendaftar karena tidak punya sertifikat TOEFL atau IELTS, Saya yakin tahun lalu anda juga melakukan hal yang sama, dan yakinlah tahun-tahun ke depan, anda juga akan menderita dan mengeluh hal yang sama. Tidak berbeda.
 
Selamat berjuang bagi yang ingin bergerak dan selamat mengeluh untuk anda yang duduk menunggu.
 
Salam Hangat,
-Adam-
AAS/ADS Awardee 2014/15
Salah Satu Event Plus Institute 'Dream to Study Abroad'.

Salah Satu Event Plus Institute ‘Dream to Study Abroad’.

****

Ini adalah Informasi Beasiwa LPSDM Tahun 2014.

Pemerintah Aceh melalui Lembaga Peningkatan Sumber Daya Manusia (LPSDM) Aceh kembali membuka kesempatan kepada putra-putri Aceh untuk memperoleh beasiswa melanjutkan pendidikan S2 dan S3 ke 21 negara.

Cuma, beasiswa ini hanya bagi mereka yang sudah memiliki bukti kemampuan berbahasa Inggris, maupun bahasa Arab (khusus untuk negara-negara Timur Tengah) dengan skor sesuai dengan negara tujuan yang dipilih, di samping telah memiliki unconditional Letter of Acceptance (surat penerimaan dari kampus) pada tahun 2014.

Informasi itu disampaikan Wakil Koordinator LPSDM Aceh, Dr Suraiya IT MA kepada Serambi di Banda Aceh, Jumat (22/8) sore, menyusul dipublikasinya secara resmi info tentang penawaran beasiswa itu melalui laman LPSDM, kemarin siang. Adapun bukti kemampuan berbahasa asing yang dibutuhkan untuk bisa lulus dalam seleksi calon penerima beasiswa ini, kata Suraiya, adalah 550 (TOEFL) ITP, 6.5 (IELTS), dan 80 (IBT).

Suraiya mengingatkan, permohonan dibatasi hanya untuk satu negara tujuan. Pemohon diharuskan mengikuti seluruh tahapan seleksi yang diadakan LPSDM dan perguruan tinggi penyelenggara atau pihak yang ditunjuk LPSDM.

Beasiswa yang disediakan kali ini, kata Suraiya, antara lain untuk bidang-bidang yang diprioritaskan, sesuai dengan kebutuhan Aceh. Misalnya, kajian Islam, perbandingan agama, ekonomi, sains, kesehatan, kebijakan publik, teknik, pendidikan, bisnis, kehutanan linguistik (English), perkapalan, navigasi, ilmu sosial, politik, arkeologi, teknik, dan pariwisata.

Adapun negara-negara tujuan untuk melanjutkan studi S2 dan S3 yang ditawarkan LPSDM tahun ini adalah Amerika, Inggris, Jerman, Prancis, Netherland, Spanyol, Rusia, Swedia, Turki, Qatar, Mesir, Sudan, Tunisia, Maroko, Yordania, Jepang, Taiwan, Thailand, Australia, Malaysia, dan Selandia Baru.

 

Sumber: Serambi Indonesia

Informasi lebih lanjut, silakan berkunjung ke lama LPSDM atau Klik di SINI

Ragu-Ragu, Nafsu dan Kesempatan

Proses pembekalan keberangatan Beasiswa Australia Awards sudah memasuki minggu-minggu terakhir bulan ke-4. Saat ini para penerima beasiswa tahun 2014/15 sedang disibukkan dengan final preference pilihan study dan universitas yang akan dilamar untuk kuliah nantinya. Untuk memberikan informasi yang lebih detil dan lanjut, pihak AAS mengadakan University Info Day dengan menghadirkan representatives dari semua Universitas yang bekerjasama dengan DFAT/AAS untuk hadir ke Indonesia dan penerima beasiswa dapat berkonsultasi secara individu kepada perwakilan tersebut. Kegiatan tersebut sudah sukses terselenggara pada tanggal 12 Agustus lalu.

Photo Credit belongs to Kak Fitriani Piter

Meskipun pilihan Field of study dan Universitas sudah dituliskan di aplikasi pendaftaran dan pada saat wawancara sedikit banyaknya sudah ditanyakan oleh tim Interviewers, namun tetap saja ada kebimbangan dan keraguan dari penerima beasiswa. Untuk Saya pribadi setidaknya bimbang dengan beberapa pertimbangan:

Pertama, Saya mimikirkan apa yang akan Saya lakukan nanti setelah menyelesaikan study. Apakah Saya akan tetap menjadi akademisi, kerja di dinas atau kantor pemerintah yang berhubungan dengan pendidikan, di NGO atau perusahaan-perusahan swasta atau multinational company lainnya. Bagi Saya yang belum masih luntang lantung, pertimbangan tempat beraktifitas menjadi konsern penting karena ini akan menentukan disiplin ilmu apa yang akan Saya pelajari di Australia.

Kalau Saya ingin menjadi dosen dengan tugas utama mengajar matakuliah-matakuliah berhubungan dengan Bahasa Inggris di Jurusan Pendidikan atau Sastra Inggris di Kampus tempat saya mengabdi sekarang atau kampus lainnya, maka pilihan Master of Teaching English to Speakers of other Languages (TESOL) atau Applied Linguistic adalah jurusan yang paling tepat supaya Saya bisa Specialized in Language and Language Teaching. Namun kalau Saya ingin mengurus hal-hal yang bersifat administrative dan majerial, seperti membuat perencanaan, mengurus managemen dan sejenisnya, maka Educational Leadership and Management adalah bidang ilmu yang cocok untuk saya pelajari. Selama ini skills managing and leading ini saya dapatkan on the process, born on the street. Kalau Saya ingin mempelejari tentang Leading and Managing People secara umum di bidang education, pilihan Master Business Administration (Education) seperti yang ditawarkan oleh Flinders University adalah pilihan yang layak untuk saya pertimbangkan kalau saya ingin bekerja di perusahan-perusahan nantinya.

Untuk memutuskannya, tidak sesederhana mengambil jemuran di terik matahari, ini menyangkut dengan masa depan dimana menjalani sisa hidup ke depan, soal kontribusi dan dedikasi. Bekerja di bidang apa, sesuai passion atau tidak juga sangat menentukan. Saya pribadi, memang tugas utama mengajar, namun pada prakteknya justru lebih banyak bersinggungan dengan urusan managing and leading. Memang tugas itu bukan tanggungjawab utama dan bukan tugas formal Saya, tapi Saya merasa lebih menikmati melakukan hal-hal yang sifatnya berusan dengan sistem, perencanaan, managemen,–malah porsi mengajarnya lebih sedikit. Mungkin salah satu penyebabnya, Saya bekerja di lembaga yang sistemnya belum well-established, masih butuh banyak inisiatif dan ide-ide, tugas dan tanggungjawab masih tumpang tindih, tidak jelas. Karenanya Saya selalu merasa terpanggil meskipun itu bukan tanggung jawab Saya. Kondisi ini juga yang membuat Saya hingga saat ini, keinginan untuk kembali ke dearah asal masih sangat tinggi. Saya berpikir akan ada banyak hal yang bisa Saya lakukan apabila saya pulang daripadi saya mengambil pekerjaan-pekerjaan di kota-kota besar atau daerah lain. Sangat banyak orang-orang hebat tidak mau pulang untuk membangun daerah dengan beragam alasan mulai dari urusan materi yang tidak layak, fasilitas yang terbatas sampai dengan hal pengakuan, penerimaan dan penghormatan dari daerah baik pemerintahnya maupun masyarakatnya.

Untuk Saya pribadi, niat kembali ke dunia kerja sekarang juga lumayan berat. Melihat atmosphir dunia kampus yang tidak sangat sehat. Para petinggi asyik memperebutkan kekuasaan. Sibuk dengan rutinitas administrative yang kaku dan terjebak dengan prosedural-prosedural. Persaingan di antara dosen yang tidak fair dan saling sikut. Berkelompok-kelompok. Kalau ada dosen yang sedikit idealis dan kritis, dianggap pembangkang kalau bersuara mengkritisi kebijakan. Oposisi dan koalisi layaknya partai politik yang berkuasa dan kalah. Begitulah potret dunia kampus yang saya amati di Aceh secara umum.

Pertimbangan selanjutnya adalah universitas yang akan dipilih. Ada sebagian kawan yang kekeh untuk tetap kuliah di Group of Eight di Australia yaitu Australian National University, University of Melbourne, Monash University, The University of Adelaide, The University of Sydney, The University of New South Wales, The University of Queensland dan The University Western Australia. Nama besar universitas penting bagi mereka karena menyangkut dengan ‘nilai tawar’ dan ‘nilai prestis’ ketika mereka mencari kerja. Sebagian lainnya tidak peduli dengan prestis universitas, toh semuanya kembali ke individu–untuk apa berenang di tengah laut, yang namanya teri tetap teri, tidak akan berubah menjadi tuna apalagi hiu. Untuk kelompok ini, mereka asyik mencocokkan matakuliah yang ingin mereka pelajari. Tidak sedikit ga yang mamasukkan pertimbangan kota/ letak perguruan tinggi bersangkutan karena itu akan mempengaruhi biaya hidup yang akan mereka keluarkan nantinya. Ada juga yang melihat teman sekelas, satu daerah atau satu jurusan karena bagi mereka dengan adanya teman dari satu derah tentu saja akan memberikan kemudahan, setidaknya ketika sakit, meskipun jelas-jelas mereka mendapat asuransi yang seharusnya tidak perlu khawatir lagi soal pelayanan. Banyak juga yang mempertimbangkan durasi program study yang akan diambil, pada umumnya mereka tidak akan mengambil program yang ditawarkan hanya 1 tahun dengan berbagai alasan mulai dari ingin tinggal lebih lama sampai dengan urusan materi. Semakin lama semakin besar kemungkinan untuk melakukan saving dari biaya hidup yang diberikan, apalagi bisa bekerja.

Untuk urusan kampus dan pilihan jurusan, Saya pribadi terpikirkan untuk mengambil combined courses di Art and Social Science yang ditawarkan oleh UNSW. Saya bisa mengambil Educational Leadership dan TESOL yang dapat Saya pelajari masing-masing 1 tahun. Memang di satu sisi memaksimal kesempatan namun Saya khawatir, keinginan untuk Hits Two Birds with a Stone adalah nafsu besar padahal tenaga kurang. Jangan-jangan dengan mengambil double degree, waktu hanya terfokus untuk kuliah dengan terus membaca buku, mengerjakan projects, menulis essays dan menyelesaikan tugas. Padahal pengalaman tinggal di luar negeri, seyogianya tidak hanya dihabiskan waktu di bangku kuliah, tapi ada banyak hal lain yang perlu disentuh dan dinikmati supaya ceritanya lengkap nanti. Sayang rasanya kalau hanya dapat gelar, but it’s not a complete journey-gak seru.

Ya apapun pertimbangan penerima beasiswa AAS tahun ini- mulai dari urusan jurusan, matakuliah, teman, lokasi kampus hingga urusan nafsu —apapun itu, memutuskannya hanya persoalan waktu- mantap atau tidak, besok hari Senin (18/7/14) semuanya harus sudah jelas-harus diputuskan. Deadline untuk submit final preferences sampai dengan pukul 9 malam.

Bismillah—mantapkan hati ini ya Allah—semoga apapun pilihanku, itu yang terbaik buat masa depanku, keluargaku, pekerjaanku, bangsaku, dan tentu saja bisa menjadi amalku. Amin.

Photo Credit belongs to Kak Fitriani Piter

Untuk LPSDM Aceh; Syarat TOEFL terlalu Tinggi

Ini adalah Kritikan Konstruktif Saya untuk Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Aceh (LPSDM). Saran ini saya tuliskan dan dipublikasi di Harian Serambi Indonesia pada saat LPSDM sedang membuka pendaftaran beasiswa tahun 2013.

***

Sumber Gambar : http://billwalker.com

SEBELUMNYA, kami bersyukur kepada Allah dan terima kasih kepada Pemerintah Aceh yang sudah melanjutkan kembali program beasiswa-yang sempat cooling down beberapa waktu. Selanjutnya, kita juga sangat mengapresiasi kerja keras Pemda, terutama LPSDM yang telah menjajaki kerja sama dengan banyak perguruan tinggi di luar negeri. Tahun ini, misalnya, khusus untuk Beasiswa S1 yang diselenggarakan melalui kerja sama antara Pemda dan Georgetown University School of Foreign Service, persyaratan kemampuan Bahasa Inggris yang dibuktikan dengan Skor TOEFL minimal 525, menurut saya kurang tepat. Angka ini terlalu tinggi, jangankan bagi para siswa, para pengajar sekalipun belum tentu mampu meraih skor TOEFL setinggi itu.

Saya paham bahwa kuliah di luar negeri membutuhkan kemampuan bahasa asing (Bahasa Inggris, dll) sesuai standar perguruan tinggi tersebut. Seharusnya untuk tahap seleksi administrasi, mungkin cukup di bawah 450. Setelah lulus, selanjutnya LPSDM menempa mereka dengan pelatihan intensif supaya bisa memenuhi kualifikasi bahasa yang diakui dunia international.

Dengan menetapkan syarat TOEFL <450, Saya yakin akan lebih banyak anak-anak Aceh yang bisa mendaftar beasiswa tersebut. Kalau tidak, tujuan pemerataan kesempatan seperti yang diharapakan hanya bersifat semu alias lips service saja. Karena faktanya, memang hanya sedikit anak di usia SMA memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang bagus.

Untuk itu, hemat saya, kalau tujuannya untuk pemerataan kesempatan dan peningkatan SDM, jika pun tahun ini tidak bisa diubah lagi, maka ada baiknya untuk kesempatan beasiswa yang akan datang. Saya yakin bahwa peran LPSDM melalui program beasiswa akan menentukan wajah Aceh 20-30 tahun yang akan datang. Semoga!

Muhammad Adam
Guru Terpencil di Aceh Utara
Email: adamyca@gmail.com

Peserta MEP 2014

June MEP Group 2012 | Australia Parliament House

June MEP Group 2012 | Australia Parliament House

Congratulation!!!

Selamat kepada kawan-kawan yang terpilih dalam program Muslim Exchange Program Tahun 2014. Selamat berselancar ria di seluruh Kota Melbourne, Sydney, dan Canberra. Kesempatan dua minggu di Australia terlalu singkat, sayang kalau tidak dimanfaatkan dengan baik.

Kepada kawan-kawan yang belum beruntung, masih ada banyak kesempatan menanti anda. Never Give Up!!!

Berikut nama-nama peserta yang lulus seleksi >>>

  1.  Ikfina Maufuriyah (Jepara, Jawa-Tengah)
  2. Nor Ismah (Yogyakarta)
  3. Siti Tarawiyah (Kalimantan-Selatan)
  4. Zahrul Fata (Ponorogo, Jawa-Timur)
  5. Sukron Ma’mun (Salatiga, Jawa-Tengah)
  6. Kartika Laras Panduhati (Jakarta-Barat)
  7. Sari Wulandari (Sleman, Yogyakarta)
  8. Fauzun Jamal (Tangerang Selatan, Banten)
  9. Ridwan (Jayapura Selatan, Papua)
  10. Shobikhan Ahmad (Bantul, Yogyakarta)

Sumber : Portal Universitas Paramadina