Ngaji Zaman Now

Versi singkat dari ulasan di bawah sudah dimuat di media Serambi Indonesia (grup Tribun) edisi Selasa 3 Oktober 2017. Silakan klik HERE untuk membaca di web Serambi Indonesia.

***&***

Baru-baru ini dunia ritel konvensional Indonesia mengalami goncangan besar. Ada beberapa perusahaan besar yang sudah lama merajai pasar Indonesia harus tutup gerainya karena pangsa pasar mereka makin hari makin lesu. Beberapa di antarnnya yaitu Matahari, Lotus, dan Debenhams yang menurut beberapa outlet mereka. Mungkin 10-15 tahun lalu, para pemilik ritel tersebut tidak ada yang memprediksi bakal collapse seperti ini karena mereka sudah menguasai pasar ritel Indonesia. Namun kemajuan teknologi membuat mereka tergerus toko-toko online yang tumbuh berjamur di mana-mana. Pertanyaanya, apakah permintaan yang berkurang sehingga mereka harus tutup ritelnya? Tentu saja bukan masalah daya beli dan permintaan yang membuat mereka harus menghentikan beberapa ritel utama mereka dan berdampak serius juga terhadap ribuan karyawannya. Orang tetap butuh pakain karena toh sandang tetap menjadi kebutuhan utama manusia. Tapi tempatnya sudah berpindah dari dunia ritel konvensional ke dunia maya. Tren berbelanja, terutama generasi melanial telah beralih dari department store (banyak jenis) ke specialty store (toko dengan menawarkan produk tertentu saja). Beberapa platform belanja online besar di Indonesia seperti lazada, tokopedia, bukalapak, belanja.com dan sejenisnya mengambil alih pangsa pasar. Belum lagi ditambah dengan ribuan atau bahkan mungkin mencapai jutaan toko online individu (non korporasi) yang menjamur di sosial media dan menawarkan produk-produk pakain dengan harga lebih murah karena mereka tidak perlu biaya tinggi untuk sewa toko, bayar karyawan, dan biaya operasional lainnya seperti toko-toko tradisional lainnya.

Serambi Indonesia (Grup Tribun) 24/11/17

Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia, Profesor Rhenald Kasali menyebut fenomena di atas dengan istilah shifting. Menurut beliau, Continue reading

Eksklusif! Untuk Calon Pendaftar Muslim Exchange Program ke Australia

Insya Allah, hari Senin tanggal 4 September 2017 pukul 17.00-18.00 WIB, kita akan live streaming dari ruang studio Inspirasi.co TV. Untuk teman-teman yang ingin bergabung silakan LIKE page MEP http://facebook.com/ausindom  dan stay tune dari pukul 17.00. Alumni yang akan mengisi diskusi kali ini adalah Mas Fahd Pahdepie (MEP 2011), Mba Ienas Tsoraya (MEP 2003) dan Ustazah kondang yang juga alumni MEP tahun 2017 Mbak Oky Setiana Dewi (Mba Oky akan live dari Mekah).

***&&&***

Promosi Online Seminar MEP

Saya tidak menduga ternyata yang tertarik mengikuti Seminar Online Muslim Exchange Program Australia – Indonesia membludak. Dalam tempo kurang dari 10 jam semenjak informasinya dipublikasi, kuota sudah penuh bahkan lebih untuk satu grup WhatsApp. Jumlah WA yang masuk ke saya sudah mencapai di atas angka 2000an. Luar biasa. Fantastic. Awalnya ini hanya inisiatif pribadi saja untuk memberikan ruang kepada teman-teman yang tertarik mendaftar MEP untuk berdiskusi. Jadi tidak ada tim khusus yang dipersiapkan untuk mengorganisir diskusi ini. Oleh karena membludaknya respon, jujur saya kewalahan karena harus merespon satu-satu dari bawah (yang duluan masuk WAnya). Jadi mohon maaf jika ada teman-teman yang sudah mengirimkan WA tetapi belum saya respon. Karena memang sangat banyak WA yang masuk.

Untuk membantu teman-teman yang tidak tertampung dalam diskusi grup WA, semoga informasi yang saya sampaikan di bawah ini akan membantu.

 

Apa sih program MEP itu dan apa tujuannya? Continue reading

[Serambi Indonesia] Islam Itu Bersih

Artikel di bawah dimuat di Harian Serambi Indonesia Edisi Jum’at 5 September 2014.

***

Sumber Gambar : http://stereotypex.com

Oleh Muhammad Adam

DALAM perjalanan menuju ke Bandara Internasional Kualanamu di Medan beberapa waktu lalu, saya singgah di satu masjid untuk shalat dan istirahat beberapa menit sebelum melanjutkan perjalanan. Ada pemandangan menarik di toilet masjid tersebut. Toilet di Masjid yang sering dijadikan tempat persinggahan tersebut terdiri dari dua bilik, satu khusus untuk pria dan satunya lagi khusus untuk wanita. Menariknya kedua bilik toilet tersebut tersedia sabun mandi.

Awalnya saya berpikir bahwa sabun mandi itu milik Remaja Masjid seperti apa yang sering saya lihat di beberapa masjid di Aceh, toiletnya juga digunakan untuk mandi oleh Remaja Masjidnya. Namun ternyata sabun di toilet masjid tersebut tidak hanya di satu kamar, di kamar sebelahnya juga disediakan. Keraguan-raguan saya tentang fungsi sabun tersebut tidak berlangsung lama, karena ada pengurus Masjid pada waktu itu. Beliau menjelaskan kalau sabun itu digunakan untuk membersihkan tangan setelah membuang air besar.

Kamar untuk membuang kotoran yang dilengkapi dengan sabun atau alat lainnya untuk membersihkan tangan setelah buang hajat adalah sesuatu yang sangat jarang saya lihat di Aceh. Saya hampir tidak pernah mendapati Masjid atau tempat-tempat ibadah yang toiletnya menyediakan fasilitas untuk membersihkan tangan setelah membuang kotoran. Hal itulah yang membuat saya menarik untuk menuliskan artikel ini dengan harapan kita bisa sama-sama memperbaiki keadaan. Menyediakan sebatang sabun memang hal kecil dan efeknya mungkin tidak terlalu besar. Namun praktek tersebut menunjukkan bagaimana detilnya Islam mengatur ummat untuk menjaga kebersihan dalam berbagai ruang dan waktu. Jangankan di tempat yang terbuka, dalam toilet yang tertutup dan digunakan untuk buang kotoran sekalipun harus tetap terjamin kebersihannya.

 Persoalan pertama
Islam sangat memprioritaskan kebersihan. Dalam perspektif Fiqh, kesucian adalah persolaan pertama yang diatur sebelum masalah ibadah-ibadah lainnya. Coba anda perhatikan awal pelajaran dari setiap Kitab Kuning yang dipelajari di dayah-dayah Salafi adalah membahas tentang thaharah (kesucian). Awal pembahasannya mengatur tentang tatacara menyucikan mulai dari apa yang kita gunakan sampai dengan apa yang kita makan. Persoalan yang diurus tidak hanya dalam situasi normal, dalam kondisi-kondisi genting seperti ketiadaan air juga diatur dengan sangat jelas dan rapi petunjuknya.

Kalau dilihat lebih jauh, Islam tidak hanya mengurus seputar persoalan menyucikan lahiriah seperti pakaian dan tempat ibadah, namun jauh dari itu ajaran Islam mengatur tentang menyucikan batin. Islam secara jelas mengatur umatnya untuk tetap menjaga kesucian hati dari sifat angkuh, iri, dengki dan serakah misalnya. Dalam hal lain, Islam juga secara jelas mengatur bagaimana menjaga kesucian harta dan kekayaan yang kita miliki. Pada intinya, Islam mengatur ummatnya untuk menjaga kesuciannya secara holistik dan komprehensif lengkap tanpa ada ruang kosong.

Namun apa yang terjadi di lapangan? Apa yang yang membuat umat Islam masih terkesan kotor? Tidak perlu melakukan pengamatan yang mendalam, coba anda perhatikan WC-WC yang ada di meunasah-meunasah atau musalla di seputar kita. Bagaimana kondisi lantainya? Bagaimana kondisi closetnya? Bagaimana kondisi tempat penampung airnya? Di luar itu, kalau kita melihat kota-kota yang di Aceh misalnya. Bagaimana kondisi kebersihannya? Apakah sulit anda menemukan sampah-sampah di emperan toko?

Mungkin terlalu jauh kalau kita mengharapkan sampah organik dan non-organik dibuang di tempat sampah yang berbeda. Toh budaya membuang sampah pada tempatnya saja, masih jauh dari harapan. Tidak hanya di tempat-tempat umum seperti toko dan kota, di sekolah-sekolah yang notabene hampir sepenuhnya peserta didik dan pendidiknya beragama Islam. Bagaiman kondisi kebersihan di sekolah-sekolah Islam kita? Coba anda perhatikan dinding-dinding ruangan kelasnya. Hampir setiap tahun pihak sekolah harus mengecet ulang karena banyak coretannya. Coba anda lihat meja dan kursi, bagaimana kondisinya? Saya yakin juga sangat memprihatinkan. Kalau di dunia pendidikan saja seperti itu, bagaimana lagi kondisinya di tempat-tempat umum lainnya?

Berbicara penataan tata ruang kota, kondisi sungai atau aliran air di belakang toko-toko dan perumahan susun di pusat-pusat kota, tampaknya masih butuh waktu banyak untuk menuju ke arah sana. Tidak heran dalam berbagai survey dan publikasi, kita hampir tidak pernah melihat kota-kota negara Islam masuk dalam kota yang bersih dan nyaman untuk ditinggali.

Karenanya tidak salah kalau kemudian ada stereotipe dari masyarakat luar, terutama dari Negara-negara barat yang mayoritas penduduknya non-muslim menganggap Negara-negara yang penduduknya banyak beragama Islam kondisi kebersihannya memprihatinkan. Mereka menganggap kalau Negara-negara Islam itu kotor, kotanya semraut, sampah berserakan dimana-mana. Bahkan, tempat ibadahnya pun juga masih jauh dari standar kebersihan yang diharapkan.

Kondisi kebersihan di Negara-negara maju sudah jauh lebih membaik dan tertata. Mereka sudah mangatur tidak hanya seputar buang sampah, meludah dan membuang bekas kunyahan permen karet juga mendapat hukuman seperti apa yang diatur di Singapura, misalnya. Coba anda perhatikan kebersihan di toilet-toilet bandara atau mall-mall besar di pusat kota. Mulai dari beragam model untuk membersihkan tangan di kamar kecil dan besar sampai dengan ketersediaan tisu sudah diatur dengan sangat baik.

 Citra kebersihan
Berbicara tentang citra kebersihan umat Muslim di Indonesia, saya memiliki pengalaman miris. Baru-baru ini Saya mengikuti sebuah pelatihan untuk membekali beberapa keterampilan sebelum Saya melanjutkan pendidikan S-2. Lembaga asing yang bertanggung jawab melakukan pelatihan tersebut tidak menyediakan tempat untuk shalat. Kemudian saya bersama beberapa kawan berinisiatif untuk ‘berdiplomasi’ dengan pihak manajemen lembaga tersebut supaya mereka mempertimbangkan kebutuhan tempat shalat peserta didik mereka di mana mayoritasnya adalah Islam.

Dalam proses komunikasi, mereka tetap tidak bisa memenuhi permintaan tersebut dalam waktu dekat. Di samping keterbatasan tempat, pihak pimpinan lembaga tersebut juga mengkawatirkan masalah kebersihan. Mereka takut kalau lantai basah dan ruang-ruang kelas yang berada di dekat tempat shalat juga akan terlihat kotor. Mereka khawatir terhadap komitmen peserta didik mereka yang akan lengah dengan kebersihan ruangan kelas. Pada intinya, mereka ingin mengatakan “kalau pun kami menyediakan tempat untuk kalian shalat, namun kalian tidak bisa menjaga kebersihan musalla tersebut. Karena kalian tidak mampu menjamin kebersihannya, maka kami juga tidak bisa memikirkan lebih serius tentang permintaan kalian.”

Alasan untuk mejaga kebersihan tempat shalat dan memastikan lantai kelas tetap bersih dan kering memang terkesan persolaan sepele dan mungkin saja anda menyimpulkan pihak manejemen lembaga tersebut terlalu mendramatisir dan mengada-ngada. Namun di luar itu, menurut saya, alasan yang mereka utarakan tersebut benar adanya. Melihat apa yang kita tampilkan di rumah-rumah ibadah, di sekolah-sekolah, di rumah sakit-rumah sakit, di kantor-kantor, dan berbagai tempat lainnya, jangan salahkan mereka yang non-muslim kalau kemudian menyimpulkan bahwa “Islam itu Kotor”. Jadi, mari kita ciptakan dan terus kita jaga bahwa “Islam itu Bersih”. Semoga!

* Muhammad Adam, Staf di Pusat Bahasa STAIN Malikussaleh, Lhokseumawe dan Penerima Beasiswa Pemerintah Australia 2014. Email: adamyca@gmail.com

[Serambi Indonesia] Negara ‘Cengeng’

Tulisan ini sudah dimuat di Harian Serambi Indonesia edisi 21 Agustus 2013.
 
 

Picture from https://allthingslearning.files.wordpress.com

BEBERAPA waktu lalu, dalam kunjungan ke beberapa kota di Australia, saya bersama empat kolega lainnya mengunjungi Universitas Melbourne dan bertemu dengan seorang guru besar. Pada saat perkenalan sebelum diskusi, sang professor menyampaikan kalau istrinya orang Indonesia tapi tinggal di Jakarta. Istri guru besar Fakultas Hukum universitas nomor wahid di Victoria tersebut tidak mau tinggal di Australia, karena tidak ada pembantu rumah tangga.

Alasan tidak ada pembantu yang dituturkan sang Professor tersebut terkesan terlalu manja. Sikap cengeng masyarakat Indonesia sudah sangat kritis dan menjadi budaya di semua lini kehidupan. Melalui tulisan ini, saya mencoba untuk melihat sikap kemanjaan masyarakat Indonesia, pada umumnya masyakat kelas menengah, dalam perspektif kultur, psikologi, hak asasi manusia (HAM), dan teologi.

 Budaya ketergantungan
Dalam konteks budaya, sikap manja masyarakat Indonesia menunjukkan budaya ketergantungan. Sikap ketergantungan kemudian membentuk sikap ketidakmandirian. Kita bisa melihat sikap tersebut dipraktekkan oleh banyak orang hampir pada semua dimensi kehidupan. Masyarakat urban yang tinggal di kota-kota besar pasti punya pembantu di rumahnya. Sebagian besar artis atau selebriti tidak hanya memiliki pembantu di rumah, tetapi juga mempunyai sopir, orang yang bawa tas, hingga orang yang mengambil baju yang dipakai. Kehidupan pengusaha juga mencerminkan sikap ketergantungannya yang sangat tinggi, mereka punya PRT yang menyiapkan makan, PRT yang memotong rumput halaman, PRT yang mempersiapkan air hangat pada saat mandi, sopir yang mengantar istri bahkan sopir yang mengantar dan menjemput anak ke sekolah pun beda dengan sopir pribadi serta pengawalnya. Pejabat pemerintah pun setali tiga uang, tidak hanya ajudan pribadi, kalau melakukan kunjungan lapangan harus ada yang memayungi, pintu mobil ada staf yang membuka, ada staf khusus yang membawa tas, dan berbagai tingkah polah lainnya.

Praktik-praktik tersebut mempunyai implikasi negatif terhadap banyak hal. Bagi pemerintah, meskipun layanan-layanan tersebut sudah diatur secara keprotokoleran, kalau memang tidak bermanfaat, kenapa tidak bisa diubah? Apakah kita harus membenarkan praktik tersebut hanya karena sudah biasa dilakukan semua rezim? Kenapa kita harus membenarkan hal yang biasa dan tidak membiasakan yang benar? Sebenarnya dengan mengubah kebiasaan tersebut, satu manfaatnya adalah dapat menghemat belanja negara. Pertanyaanya, wajarkah pemerintah kita meneriakkan penghematan nasional kalau mengurangi fasilitas orang memegang payung saja tidak mau?

Impilikasi selanjutnya adalah membentuk budaya materialisme. Masyarakat akan berlomba untuk mencari materi sebanyak-banyaknya tanpa peduli halal dan haram, mereka tidak takut melanggar hukum atau tidak. Karenanya tidak heran kalau semakin hari, kasus korupsi bukan berkurang malah menjamur. Karena bagi mereka, status sosial akan terangkat kalau mereka mempunyai materi (terutama uang) yang mapan. Kehormatan dan harga diri akan diperoleh kalau memiliki materi yang banyak.

Pengalaman berkunjung ke Amerika dan Australia, saya tidak melihat di rumah-rumah asli orang amerika yang punya pembantu. Ketika saya home-stay di salah satu rumah orang Amerika di kawasan Kentucky, orangtua asuh saya sudah lanjut usia (lansia), bahkan mereka sudah punya cucu. Tetapi mereka tidak punya PRT. Dengan umurnya yang sudah 70-an masih mampu mengemudikan mobil sendiri dan melayani kami dengan maksimal. Kalau melihat materi, kekayaan mereka tidak perlu diragukan lagi. Buktinya setiap bulan mereka mampu menampung dan membiayai mahasiswa atau pelajar international di rumahnya untuk mempelajari secara langsung budaya amerika dengan gratis.

Sikap kemanjaan tersebut juga memiliki dampak psikologis yang merugikan bagi kedua pihak. Bagi majikan yang sering menggantungkan diri kepada pembantu akan merasa malas untuk mengerjakan pekerjaan yang sering dikerjakan oleh PRT. Apakah tidak mampu membuka pintu mobil sendiri? Apakah mereka tidak sempat untuk menyiapkan sarapan pagi kalau bangunnya cepat? Bagi PRT juga mempunyai resiko psikologis, yaitu merasa tidak mampu untuk hidup sendiri. Mereka tidak percaya diri kalau mereka bisa hidup layak tanpa harus menjadi PRT.

Dampak dari psikologis selanjutnya adalah tidak melahirkan kreatifitas, tidak mau berpikir, malas berkarya, tidak mau menciptakan inovasi-inovasi baru, karena mereka sudah merasa nyaman mencari uang dengan menjadi PRT. Hal ini terbukti dari hasil penelitian I Wayan Pageh tentang Permasalahan Pelayanan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, umumnya TKI terserap dalam pekerjaan sektor informal seperti pekerja rumah tangga (bnp2tki.go.id). Karena mereka adalah unskilled-worker, tidak heran juga kalau kekerasan sering menimpa mereka. Ini juga satu dampak dari malas berinovasi dan berkreasi karena sikap ketergantungan terhadap majikan.

 Merasa ‘naik kelas’
Melihat praktik-praktik tersebut dalam perspektif HAM juga mempunyai kekurangan-kekurangan. Karena sudah mapan dan mampu membayar orang lain, akhirnya merasa “naik kelas”. Kalau mencuci piring atau baju sendiri, merasa hina. Meskipun anaknya sendiri tidak bisa mencebok langsung sendiri, karena sudah ada PRT. Singkatnya, mencuci, memasak, menyapu, dan sejenisnya adalah pekerjaan orang miskin. Orang kaya tidak layak mengerjakannya. Kalau kontruksi berpikir seperti ini yang kita bangun, pertanyaannya dimanakah implimentasi nilai-nilai HAM yang mengagung-agungkan persamaan individu?

Dalam kasus professor diatas, kalau dilihat dari kacamata ajaran agama (teologis) juga mempunyai efek negatif. Karena tidak ada pembantu, akhirnya tidak mau ikut dan tinggal bersama suaminya di Australia. Terlepas dari embel-embel cinta dan setia, kalau saja pihak lelaki atau perempuan yang main “serong” untuk memenuhi kebutuhan batin karena jauh dari pasangan, siapa yang disalahkan?

Berkaitan dengan potret yang penulis sebutkan di atas, terkesan boros atau sombong dengan menghamburkan uang untuk membayar banyak orang. Saya percaya, Tuhan dalam agama mana pun tidak senang kepada umatnya yang suka menghamburkan uang. Naifnya lagi, menurut data dari Balai Pelayanan Kepulangan BNP2TKI, kabanyakan TKI yang bermasalah adalah TKI yang berada di negara-negara yang kental syariatnya seperti Arab Saudi, Malasyia, Syiria, Yordania, dan Uni Emirate Arab.

Data tersebut mengindikasikan kalau sikap kemanjaan tadi berimplikasi juga terhadap agama. Kalau memang banyak ruginya, lantas mengapa kita harus manja alias cengeng?

* Muhammad Adam, Sekjen Komunitas Demokrasi Aceh Utara (KDAU), dan Wakil Kepala Sekolah SMA Ruhul Islam Tanah Luas Aceh Utara. Email: adamyca@gmail.com

[Serambi Indonesia] Harga Bahasa

Tulisan ini Saya tulis untuk Balai Bahasa Banda Aceh yang bekerjasama dengan Serambi Indonesia dalam mempublikasi tulisan dan isu seputar Bahasa. Artikel ini sudah dimuat di Harian Serambi Indonesia Tanggal 4 Agustus 2013.
 

Click pada gambar di atas kalau anda tertarik untuk nonton Video tentang Bahasa Tubuh di http://ted.com

***

MESKIPUN sering terdengar kalau dalamnya laut bisa diukur, tapi dalamnya isi hati seseorang tidak dapat diketahui, bagi orang-orang yang mempelajari karakter, kejiwaan, bahasa non-verbal, dan sejenisnya, frase bijak di atas tampaknya keliru, karena para ahli di dalam disiplin ilmu tersebut dengan sangat mudah dapat menilai seseorang melalui bahasa.

Bahasa yang digunakan oleh seorang penutur menandakan kualitas dirinya. Penggunaan  bahasa, terutama dalam spoken language menunjukkan karakter penuturnya. Karakter dan kepribadian seseorang dapat dinilai melalui bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi.

Kesopanan, berpendidikan, berwibawa, penyabar, punya nilai estetika, menghargai dan berkarisma, atau sebaliknya kasar, tidak sopan, ceroboh, tidak sabar dan asal bunyi juga dapat dinilai melalui bahasa. Karenanya tidak berlebihan kalau ada yang menyebutkan ‘Mulutmu adalah harimaumu’.

Dalam dunia pendidikan, kualitas seseorang pelajar atau pendidik sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam menggunakan bahasa. Bahasa yang dikomunikasikan oleh seorang guru besar menunjukkan seberapa dalam keilmuan yang dimilikinya.

Bagi seorang pemateri dalam sebuah forum, bahasa yang dia gunakan menunjukkan kemampuannya dalam penguasaan materi. Bagi seorang penulis, kekayaan bahasa yang dimilikinya juga menentukan kualitas tulisannya. Kemampuan menggunakan keberagaman bahasa dapat menjadi nilai plus tersendiri.

Bahkan dalam tulisan-tulisan scientific pengulangan kosakata yang sama akan mengurangi nilai sebuah tulisan. Banyak orang yang menyeleneh kalau bahasanya tidak ilmiah bukan
akademisi namanya. Semakin ilmiah bahasa yang digunakan, maka semakin berilmu  akademisi tersebut.

Meskipun dalam beberapa kondisi tertentu, semakin ilmiah bukan malah semakin membantu orang lain dalam memahaminya, justru menyulitkan. Bagi politisi, bahasa juga memiliki peran  penting dalam berbagai ruang dan waktu. Sebagian besar partai politik justru menggunakan jasa “pihak ketiga” untuk membuat tag-line partai atau menyingkat nama calon, terutama pada saat mendakati masa pemilihan.

Dalam kondisilain di dunia politik, memilih orang untuk duduk di kursi yang berhubungan dengan masyarakat, “Harga” Bahasa khususnya media-dipilih dengan sangat selektif. Kemampuan mengkomunikasikan sesuatu dengan baik, khususnya ketika parpol tersebut  dalam masalah sangat ditentukan oleh peran seorang humas atau jubir. Tidak hanya itu, petinggi di suatu institusi tidak jarang menggunakan jasa “tukang lobby” untuk suatu tujuan tertentu.

Dalam konteks kehidupan sosial dan budaya, pengaruh bahasa juga tidak kecil. Dalam budaya masyarakat Aceh, pada umumnya proses perkenalan antara lelaki dan perempuan yang ingin berta’aruf atau menikah pada umumnya dijembatani oleh pihak ketiga yang sering disebut dengan istilah “seulangke”. Kemampuan ‘jubir’ yang biasa digunakan oleh pihak lelaki ini tidak hanya berpengaruh pada tahap meyakinkan calon pengantin dan keluarganya, tetapi dalam beberapa kasus juga berpengaruh terhadap jumlah mahar yang sudah menjadi hak prerogratif pihak perempuan.

Kalau tipe Teungku Seulangke yang sifatnya Peusom Gasien, Peuleumah Kaya, sudah dapat dipastikan, maharnya akan melambung. Sebaliknya, kemampuan fasilatator ini dalam melakukan bergaining akan terbuka peluang meringankan pihak lelaki atau kedua belah  pihak.

Intinya, dalam kondisi apapun, bahasa menjadi salah satu faktor kelancaran atau kegagalan suatu pekerjaan. Karenanya tidak sedikit orang mendramatisir bahasa yang digunakan dalam komunikasi untuk mengimplikasikan sisi baik dari dirinya. Uniknya bahasa, kemampuan berakting dalam menggunakan bahasa tidak akan bertahan lama.

Pada  umumnya, orang hanya mampu menyembunyikan karakteristik pribadinya dalam satu atau dua kali interaksi. Meskipun ada orang yang mampu mempertahankan ketidakaslian  dirinya melalui bahasa yang digunakan dalam jangka waktu yang lama, tetapi adakalanya dalam kondisi tertentu tetap kecepolosan dan mengeluarkan kata-kata yang sebelumnya memang sudah mendarah daging. Makanya ada orang yang mengatakan ‘ooo, ternyata kamu bisa juga menggunakan kata ‘itu’ ya’ atau ‘ kok kamu ngomongnya kasar seperti itu’ dan sejenisnya.

Ringkasnya, bahasa memiliki nilai baik secara ekonomi, sosial, budaya, politik, bahkan agama. Untuk itu menghargakan bahasa dengan mahal akan berpengaruh terhadap mahalnya harga Anda sebagai penutur di mata orang lain.

Muhammad Adam, Pendiri Plus Institute. Alumni IELSP Universitas Ohio, Amerika, Peserta MEP Australia, dan Wakil Kepala Sekolah SMA Ruhul Islam, Lhokseumawe.