Wisuda tanpa Jabat Tangan di Australia

Citizen Reporter  ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) edisi Sabtu, 12 November 2016. Silakan klik DI SINI untuk membaca di laman Serambi Indonesia.

 

sumber gambar: http://www.flinders.edu.au/current-students/graduation-beyond/graduation/

sumber gambar: http://www.flinders.edu.au/current-students/graduation-beyond/graduation/

MUHAMMAD ADAM, putra Seunuddon, Aceh Utara, melaporkan dari Australia

MENJELANG akhir tahun, atmosfer akademis kampus di Australia semakin terasa. Mahasiswa pada umumnya disibukkan menyelesaikan berbagai tugas kuliah. Di setiap pojok terlihat mahasiswa yang sibuk dengan aktivitas akademik mereka.

Banyak ruang belajar yang susah di-booking karena terisi selalu oleh mahasiswa yang kerja kelompok atau mengerjakan tugas bersama. Untuk mahasiswa S1, malah lebih berat lagi bebannya karena mereka harus mengikuti ujian (exam) layaknya model kuliah di Indonesia. Meski tak ada ujian untuk kebanyakan jurusan, beban tugas kuliah (assignment) justru lebih besar untuk mahasiswa pascasarjana (magister). Saya yang kuliah di Manajemen Pendidikan di Flinders University Australia Selatan harus menulis minimal 20.000-25.000 kata untuk empat mata kuliah yang harus diambil setiap semesternya.

Bukan jumlah katanya yang jadi masalah, tapi untuk mampu menulis esai akademis yang bagus dibutuhkan membaca yang banyak supaya tulisannya berkualitas. Menariknya, Continue reading

[Serambi Indonesia] Islam Itu Bersih

Artikel di bawah dimuat di Harian Serambi Indonesia Edisi Jum’at 5 September 2014.

***

Sumber Gambar : http://stereotypex.com

Oleh Muhammad Adam

DALAM perjalanan menuju ke Bandara Internasional Kualanamu di Medan beberapa waktu lalu, saya singgah di satu masjid untuk shalat dan istirahat beberapa menit sebelum melanjutkan perjalanan. Ada pemandangan menarik di toilet masjid tersebut. Toilet di Masjid yang sering dijadikan tempat persinggahan tersebut terdiri dari dua bilik, satu khusus untuk pria dan satunya lagi khusus untuk wanita. Menariknya kedua bilik toilet tersebut tersedia sabun mandi.

Awalnya saya berpikir bahwa sabun mandi itu milik Remaja Masjid seperti apa yang sering saya lihat di beberapa masjid di Aceh, toiletnya juga digunakan untuk mandi oleh Remaja Masjidnya. Namun ternyata sabun di toilet masjid tersebut tidak hanya di satu kamar, di kamar sebelahnya juga disediakan. Keraguan-raguan saya tentang fungsi sabun tersebut tidak berlangsung lama, karena ada pengurus Masjid pada waktu itu. Beliau menjelaskan kalau sabun itu digunakan untuk membersihkan tangan setelah membuang air besar.

Kamar untuk membuang kotoran yang dilengkapi dengan sabun atau alat lainnya untuk membersihkan tangan setelah buang hajat adalah sesuatu yang sangat jarang saya lihat di Aceh. Saya hampir tidak pernah mendapati Masjid atau tempat-tempat ibadah yang toiletnya menyediakan fasilitas untuk membersihkan tangan setelah membuang kotoran. Hal itulah yang membuat saya menarik untuk menuliskan artikel ini dengan harapan kita bisa sama-sama memperbaiki keadaan. Menyediakan sebatang sabun memang hal kecil dan efeknya mungkin tidak terlalu besar. Namun praktek tersebut menunjukkan bagaimana detilnya Islam mengatur ummat untuk menjaga kebersihan dalam berbagai ruang dan waktu. Jangankan di tempat yang terbuka, dalam toilet yang tertutup dan digunakan untuk buang kotoran sekalipun harus tetap terjamin kebersihannya.

 Persoalan pertama
Islam sangat memprioritaskan kebersihan. Dalam perspektif Fiqh, kesucian adalah persolaan pertama yang diatur sebelum masalah ibadah-ibadah lainnya. Coba anda perhatikan awal pelajaran dari setiap Kitab Kuning yang dipelajari di dayah-dayah Salafi adalah membahas tentang thaharah (kesucian). Awal pembahasannya mengatur tentang tatacara menyucikan mulai dari apa yang kita gunakan sampai dengan apa yang kita makan. Persoalan yang diurus tidak hanya dalam situasi normal, dalam kondisi-kondisi genting seperti ketiadaan air juga diatur dengan sangat jelas dan rapi petunjuknya.

Kalau dilihat lebih jauh, Islam tidak hanya mengurus seputar persoalan menyucikan lahiriah seperti pakaian dan tempat ibadah, namun jauh dari itu ajaran Islam mengatur tentang menyucikan batin. Islam secara jelas mengatur umatnya untuk tetap menjaga kesucian hati dari sifat angkuh, iri, dengki dan serakah misalnya. Dalam hal lain, Islam juga secara jelas mengatur bagaimana menjaga kesucian harta dan kekayaan yang kita miliki. Pada intinya, Islam mengatur ummatnya untuk menjaga kesuciannya secara holistik dan komprehensif lengkap tanpa ada ruang kosong.

Namun apa yang terjadi di lapangan? Apa yang yang membuat umat Islam masih terkesan kotor? Tidak perlu melakukan pengamatan yang mendalam, coba anda perhatikan WC-WC yang ada di meunasah-meunasah atau musalla di seputar kita. Bagaimana kondisi lantainya? Bagaimana kondisi closetnya? Bagaimana kondisi tempat penampung airnya? Di luar itu, kalau kita melihat kota-kota yang di Aceh misalnya. Bagaimana kondisi kebersihannya? Apakah sulit anda menemukan sampah-sampah di emperan toko?

Mungkin terlalu jauh kalau kita mengharapkan sampah organik dan non-organik dibuang di tempat sampah yang berbeda. Toh budaya membuang sampah pada tempatnya saja, masih jauh dari harapan. Tidak hanya di tempat-tempat umum seperti toko dan kota, di sekolah-sekolah yang notabene hampir sepenuhnya peserta didik dan pendidiknya beragama Islam. Bagaiman kondisi kebersihan di sekolah-sekolah Islam kita? Coba anda perhatikan dinding-dinding ruangan kelasnya. Hampir setiap tahun pihak sekolah harus mengecet ulang karena banyak coretannya. Coba anda lihat meja dan kursi, bagaimana kondisinya? Saya yakin juga sangat memprihatinkan. Kalau di dunia pendidikan saja seperti itu, bagaimana lagi kondisinya di tempat-tempat umum lainnya?

Berbicara penataan tata ruang kota, kondisi sungai atau aliran air di belakang toko-toko dan perumahan susun di pusat-pusat kota, tampaknya masih butuh waktu banyak untuk menuju ke arah sana. Tidak heran dalam berbagai survey dan publikasi, kita hampir tidak pernah melihat kota-kota negara Islam masuk dalam kota yang bersih dan nyaman untuk ditinggali.

Karenanya tidak salah kalau kemudian ada stereotipe dari masyarakat luar, terutama dari Negara-negara barat yang mayoritas penduduknya non-muslim menganggap Negara-negara yang penduduknya banyak beragama Islam kondisi kebersihannya memprihatinkan. Mereka menganggap kalau Negara-negara Islam itu kotor, kotanya semraut, sampah berserakan dimana-mana. Bahkan, tempat ibadahnya pun juga masih jauh dari standar kebersihan yang diharapkan.

Kondisi kebersihan di Negara-negara maju sudah jauh lebih membaik dan tertata. Mereka sudah mangatur tidak hanya seputar buang sampah, meludah dan membuang bekas kunyahan permen karet juga mendapat hukuman seperti apa yang diatur di Singapura, misalnya. Coba anda perhatikan kebersihan di toilet-toilet bandara atau mall-mall besar di pusat kota. Mulai dari beragam model untuk membersihkan tangan di kamar kecil dan besar sampai dengan ketersediaan tisu sudah diatur dengan sangat baik.

 Citra kebersihan
Berbicara tentang citra kebersihan umat Muslim di Indonesia, saya memiliki pengalaman miris. Baru-baru ini Saya mengikuti sebuah pelatihan untuk membekali beberapa keterampilan sebelum Saya melanjutkan pendidikan S-2. Lembaga asing yang bertanggung jawab melakukan pelatihan tersebut tidak menyediakan tempat untuk shalat. Kemudian saya bersama beberapa kawan berinisiatif untuk ‘berdiplomasi’ dengan pihak manajemen lembaga tersebut supaya mereka mempertimbangkan kebutuhan tempat shalat peserta didik mereka di mana mayoritasnya adalah Islam.

Dalam proses komunikasi, mereka tetap tidak bisa memenuhi permintaan tersebut dalam waktu dekat. Di samping keterbatasan tempat, pihak pimpinan lembaga tersebut juga mengkawatirkan masalah kebersihan. Mereka takut kalau lantai basah dan ruang-ruang kelas yang berada di dekat tempat shalat juga akan terlihat kotor. Mereka khawatir terhadap komitmen peserta didik mereka yang akan lengah dengan kebersihan ruangan kelas. Pada intinya, mereka ingin mengatakan “kalau pun kami menyediakan tempat untuk kalian shalat, namun kalian tidak bisa menjaga kebersihan musalla tersebut. Karena kalian tidak mampu menjamin kebersihannya, maka kami juga tidak bisa memikirkan lebih serius tentang permintaan kalian.”

Alasan untuk mejaga kebersihan tempat shalat dan memastikan lantai kelas tetap bersih dan kering memang terkesan persolaan sepele dan mungkin saja anda menyimpulkan pihak manejemen lembaga tersebut terlalu mendramatisir dan mengada-ngada. Namun di luar itu, menurut saya, alasan yang mereka utarakan tersebut benar adanya. Melihat apa yang kita tampilkan di rumah-rumah ibadah, di sekolah-sekolah, di rumah sakit-rumah sakit, di kantor-kantor, dan berbagai tempat lainnya, jangan salahkan mereka yang non-muslim kalau kemudian menyimpulkan bahwa “Islam itu Kotor”. Jadi, mari kita ciptakan dan terus kita jaga bahwa “Islam itu Bersih”. Semoga!

* Muhammad Adam, Staf di Pusat Bahasa STAIN Malikussaleh, Lhokseumawe dan Penerima Beasiswa Pemerintah Australia 2014. Email: adamyca@gmail.com