Wisuda tanpa Jabat Tangan di Australia

Citizen Reporter  ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) edisi Sabtu, 12 November 2016. Silakan klik DI SINI untuk membaca di laman Serambi Indonesia.

 

sumber gambar: http://www.flinders.edu.au/current-students/graduation-beyond/graduation/

sumber gambar: http://www.flinders.edu.au/current-students/graduation-beyond/graduation/

MUHAMMAD ADAM, putra Seunuddon, Aceh Utara, melaporkan dari Australia

MENJELANG akhir tahun, atmosfer akademis kampus di Australia semakin terasa. Mahasiswa pada umumnya disibukkan menyelesaikan berbagai tugas kuliah. Di setiap pojok terlihat mahasiswa yang sibuk dengan aktivitas akademik mereka.

Banyak ruang belajar yang susah di-booking karena terisi selalu oleh mahasiswa yang kerja kelompok atau mengerjakan tugas bersama. Untuk mahasiswa S1, malah lebih berat lagi bebannya karena mereka harus mengikuti ujian (exam) layaknya model kuliah di Indonesia. Meski tak ada ujian untuk kebanyakan jurusan, beban tugas kuliah (assignment) justru lebih besar untuk mahasiswa pascasarjana (magister). Saya yang kuliah di Manajemen Pendidikan di Flinders University Australia Selatan harus menulis minimal 20.000-25.000 kata untuk empat mata kuliah yang harus diambil setiap semesternya.

Bukan jumlah katanya yang jadi masalah, tapi untuk mampu menulis esai akademis yang bagus dibutuhkan membaca yang banyak supaya tulisannya berkualitas. Menariknya, kampus sangat memahami beban mahasiswa yang besar ketika mendekati musim tugas kuliah. Misalkan di Flinders, tempat saya kuliah, pengelola perguruan tinggi menyediakan berbagai fasilitas untuk mambantu mahasiswa dalam menikmati masa-masa assignment. Untuk fasilitas seperti komputer lengkap dengan wifi kualitas premium dan referensi seperti buku dan jurnal sudah pasti tidak pernah menjadi masalah. Namun, pada saat musim assignment dan exam, ada beberapa pemandangan lain yang membuat saya takjub jika dilihat dari sisi manajemen pendidikan. Sebut saja, mereka menyediakan teh dan kopi lengkap dengan beberapa makanan ringan setelah office hours untuk membantu mahasiswa yang begadang. Soalnya, hampir setiap malam ramai mahasiswa yang begadang hingga larut malam untuk menyelesaikan tanggung jawab akademis mereka.

Untuk perpustakaan, mereka buka lebih lama daripada biasanya di luar musim ujian. Mereka bahkan menyediakan kursi pijat berteknologi canggih secara cuma-cuma untuk mebantu mahasiswa relaksasi setelah duduk berjam-jam di depan komputer. Tak cukup di situ, untuk hiburan, pengelola perpustakaan bahkan menmpersiapkan live band, game puzzle, bahkan papan gambar untuk mambantu mahasiswa ‘mengalihkan’ beban tugas kuliah mereka sementara ke permainan.

Kini saya sudah berada di pengujung perjalanan S2 dan baru saja mendaftar wisuda yang akan dilaksanakan pada medio Desember 2016. Pada saat mengisi beberapa data secara online sebagai bentuk konfirmasi saya akan mengikuti wisuda, ada yang menarik perhatian saya, yaitu tradisi berjabat tangan antara wisudawan/ti dengan anggota senat kampus pada saat wisuda.

Sudah menjadi pemandangan lazim pada saat wisuda bahwa peserta wisuda yang dipanggil ke atas panggung berjabat tangan dengan para anggota senat setelah pengukuhan. Namun, Flinders University sebagai kampus yang memiliki mahasiswa yang sangat beragam dari berbagai negara, mereka melihat soal salaman tangan secara serius. Mereka paham bahwa ada mahasiswa yang tak mau berjabat tangan, terutama dengan lawan jenis, karena alasan agama atau personal tertentu. Untuk itu, di formulir registrasi wisuda, mereka menyediakan pilihan apakah wisudawan yang bersangkutan mau berjabat tangan atau tidak. Jika tidak, mereka disuruh menconteng pilihan ‘I would prefer not to shake hands’ (saya lebih senang untuk tidak berjabat tangan).

Mungkin bagi sebagaian orang ini bukanlah urusan besar, namun jika dilihat dari kacatama leadership dan manajemen pendidikan, ada dua hal setidaknya yang bisa dipelajari apa yang dilakukan oleh Flinders University. Pertama, sebagai kampus internasional yang mahasiswanya berasal dari berbagai negara dengan latar belakang agama yang beragam, Flinders melihat bahwa ada kebutuhan berbeda yang harus mereka penuhi dan Flinders sebagai lembaga penyedia jasa pendidikan. Mereka melihat bahwa ada kewajiban untuk memenuhi dan menghormati keragama budaya mahasiswa mereka. Ini soal sensitivitas terhadap budaya orang lain yang harus dihormati. Bagi saya ini adalah bentuk aktualisasi dari pluralisme itu sendiri.

Kedua, dari aspek teknis kelancaran wisuda, dengan adanya data mahasiswa yang tak mau bersalaman tangan akan membuat proses wisuda terlihat lebih ‘indah’. Pengalaman saya sebagai mahasiswa dan beberapa kali terlibat dalam proses wisuda sebagai panitia yang memanggil nama wisudawan, saya melihat terkadang rektor atau anggota senat lainnya terlihat kagok karena ada mahasiswa, terutama mahasiswi, yang tidak mau salaman, padahal tangan Pak Rektor sudah duluan disodorkan. Namun, jika sudah dari awal diinformasikan kalau mahasiswa yang bersangkutan tak mau salaman, tentu rektor atau anggota senat sudah mengantisipasinya.

Meskipun ini hal kecil mungkin, tapi tentu akan menjadi salah satu aspek kekhidmatan proses wisuda. Nah, ini pola pengelolaan perguruan tinggi di Australia yang notabene tak berlandaskan pada pilar-pilar agama, bahkan cenderung kapitalis, lalu para pengelola lembaga pendidikan kita di Aceh bagaimana?