Yang Tua Yang Melayani

Ada yang luput dari perhatian saya sebelumnya saat melakukan perjalanan ke luar negeri. Salah satunya yaitu layanan yang diberikan kepada pelanggan. Dalam perjalanan ke Adelaide, Australia untuk melanjutkan studi beberapa waktu lalu, perhatian saya terfokus kepada pramugari dan pramugara dalam pesawat Qantas. Awak pesawat yang bertugas melayani para penumpang tersebut sudah berusia di atas 35 tahun. Meskipun prediksi umur itu hanya perkiraan saya saja, tetapi apa yang terlihat secara fisik, usia mereka memang tidak dikatagorikan lagi anak gadis, kalaupun tidak sopan mengatakan mereka sudah tua.

Photo dari blog.clientheartbeat.com

Karena aspek usia tersebut menarik,  saya baru menyadari ketika pergi ke Ohio, Amerika pada saat masih menjadi Mahasiswa, hal yang sama juga ada. Orang-orang yang bertugas melayani di dalam pesawat sudah berusia di atas rata-rata dari apa yang sering saya lihat sebelumnya. Menariknya lagi, kalau dilihat secara fisik, beberapa di antara mereka ada yang berkulit (maaf) hitam. Awalnya saya berpikir, karena ini perjalanan international makanya pihak perusahaan mempekerjakan orang-orang yang sudah berpengalaman, ternyata untuk perjalanan domestik juga sama. Usia mereka umumnya juga sudah di atas 35 tahun.
Pemandangan di dalam pesawat tersebut membuat saya terfokus pada tempat-tempat umum lainnya yang sifatnya melayani pelanggan. Salah satunya yaitu di bank. Beberapa Bank yang pernah saya datangi ketika di Amerika dan Australia, karyawan-karyawan yang bertanggungjawab melayani nasabah sudah tidak muda lagi secara usia. Kalaupun tidak dikatakan tua, yang jelas kulit mereka sudah tidak kencang lagi. Tidak hanya di Bank, beberapa pusat perbelanjaan (shopping centre), kebanyakan kasir juga sudah berusia di atas 30-an.
Ada yang berbeda dari pelayanan-pelayanan di luar negeri dengan apa yang sering saya lihat di negeri kita. Di pesawat misalkan. Jika anda memperhatikan, perusahan pesawat yang melayani perjalanan domestik (antar kota)  pada umumnya merekrut awak pesawat yang bertugas melayani penumpang dengan usia yang relatif masih muda. Beberapa iklan lowongan kerja yang pernah saya baca juga, usia untuk pelamar dibatasi tidak melebihi 25 tahun.
Tidak hanya di dunia penerbangan, coba anda lihat di bank-bank di Indonesia. Para teller dan karyawan lainnya hampir tidak ada yang berusia di atas 40 tahun. Begitu juga di mall atau supermarket, pada umumnya yang menjaga toko adalah anak-anak gadis yang masih berusia 20-30 tahun.
Pada prinsipnya, tidak ada yang salah dengan perusahan-perusahan yang memperkerjakan karyawan yang masih muda untuk melayani penumpang, nasabah atau pembeli. Saya tidak tau apa alasan prinsipil yang mendasari kebijakan-kebijakan perusahaan yang bergerak di custumer service, pada umumnya merekrut pekerja yang masih muda, cantik dan memiliki postur tubuh ideal. Idealnya substansi melayani tidak tertutupi dengan persoalan-persoalan fisik yang sifatnya sangat relatif. Coba anda perhatikan ada berapa banyak pramugri yang berkulit hitam yang anda temui di pesawat. Jika anda perhatikan di Bank, hampir tidak ada karyawan yang bermuka pas-pasan.
Seyogianya kemampuan service yang dikedepankan, bukan persoalan fisik. Tidak ada yang salah dengan kulit hitam atau tubuh yang tidak ideal, selama mereka mampu melayani dengan sepenuh hati seharusnya mereka juga direkrut menjadi pelayan-pelayan penumpang, nasabah atau konsumen. Saya tidak bermaksud menghakimi orang berkulit hitam atau bermuka ala kadar tidak boleh melayani. Akan tetapi begitulah faktanya yang sering kita lihat di negeri kita. Seolah-olah kalau anda tidak cantik, tidak tinggi, tidak berkulit putih, anda tidak boleh melamar jadi pramugari atau karyawan di Bank. Pada titik inilah menurut saya praktik diskriminasi terjadi. Ada kesempatan yang sepertinya dibedakan karena persoalan fisik yang jelas-jelas itu pemberian tuhan yang tidak bisa kita tawar menawar.
Terakhir, saya tidak bermaksud melakukan komparasi antara negara kita dengan negara-negara yang sudah lebih maju. Saya tidak mau terjebak dalam syndrom inferior dengan kemampuan negara sendiri. Saya sadar kita sedang berjuang untuk menjadi negara yang lebih beradab. Akan tetapi segala sesuatu yang baik itu bisa kita pelajari dan dapatkan dari mana saja. Persoalan melayani adalah wilayah mental bukan membanding-bandingkan tubuh. Menurut saya, ada persoalan mendasar yang harus kita ubah yaitu karakter atau mental kita. Sering kita lihat tagline Anda adalah Priortias Kami atau Anda puas, kami senang. Meskipun motto (value) seperti itu dipampang besar-besar oleh perusahan-perusahan yang hidup-matinya dari kepuasan pelanggan, namun kalau mental manajemen dan karyawan yang tidak punya dedikasi melayani, hemat saya, pelanggan tetap tidak akan puas. Kendatipun mereka memperkajakan perempuan cantik dan berpenampilan menarik, tidak berefek kepada pelanggan. Toh yang tua juga tetap mampu melayani sepenuh hati dengan dedikasi tinggi.