Remediasi Politisi

Sambil melepaskan sepatu dan merebahkan diri ke ranjang politisi itu berkata “Wah lelah juga. Hari ini benar-benar melelahkan.” Aku juga merasa begitu. Seingatku belum pernah aku merasa selelah ini,” kata sang istri yang pada hari itu mengikutinya berkampanye keliling.

“Kau lelah? Bukannya aku yang berpidato terus-terusan? Kenapa jadi kamu yang lelah?” tanya politisi itu kepada istrinya. “Ya. Aku lelah karena terpaksa harus mendengarkan semua omong kosongmu seharian ini,” ungkap istrinya.

Petikan dialog tersebut merupakan salah satu guyonan dalam buku “Komedi Ala Politisi-Banyolan Politik Paling Konyol” karangan Eko Sugiarto, Andi Publiser 2009. Penulis sepertinya ingin menggambarkan seperti apa wajah politisi kita saat ini.

Berbicara tentang politisi, beberapa waktu lalu, LSI mengeluarkan rilis hasil survei tentang citra pilitisi Indonesia saat ini. Hasil penelitian LSI mengungkap bahwa sebanyak 51,3 persen publik berpandangan politikus kita buruk. Sementara hanya 23,4 persen saja yang menilai positif terhadap politikus.

Survei ini bisa disebut sebagai representasi pandangan masyarakat secara umum terhadap citra politisi saat ini. Suatu hal yang sejatinya tidak terlalu mengejutkan mengingat sepak terjang politisi yang begitu identik dengan korupsi dan kurang akomodatif terhadap kepentingan (interest) rakyat.

Indikatornya tampak jelas secara kasat mata dari berbagai kasus korupsi yang menimpa mereka. Demikian halnya sikap para politisi yang cenderung membisu terhadap kebijakan penguasa yang seringkali tidak pro rakyat.

Jika dahulu para politisi, baik dari Indisce Partij hingga Masyumi, dikenal sangat memegang teguh idealisme, dan benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat. Akan tetapi kini mayoritas politisi kita nyaris mengabaikan ideologi, cenderung mencari posisi aman.

Seolah-olah hanya memperalat kekuasaan untuk memperjuangkan kepentingan pribadi dan golongan. Sebagai alat untuk memperkaya diri, bagi-bagi jabatan, juga sebagai lahan basah tindak korupsi individu maupun berjamaah.

Alhasil negri ini semakin terpuruk. Jika negara terus diurus oleh para politisi seperti ini, maka Indonesia lama-lama akan semakin hancur. Kita butuh politisi transformatif yang bisa menyelamatkan bangsa. Karena itu, diperlukan remidiasi politisi untuk menjadikan politisi kita kembali pada track yang benar.

Pertama: Menumbuhkan spirit ruhiah pada diri politisi. Tidak ada resep yang lebih ampuh daripada resep ilahiah, apalagi kita tahu bahwa mayoritas politisi negri ini adalah muslim. Artinya, kesadaran akan hubungannya dengan sang pencipta jagat raya mesti ditingkatkan.

Perasaan bahwa dirinya selalu dimonitoring oleh Allah Swt niscaya berimplikasi pada rasa takut apabila ingin berbuat yang tak sesuai dengan norma, seperti korupsi, menipu rakyat, membohongi rakyat, tidak membela kepentingan rakyat, dsb.

o Kedua: Menciptakan kesadaran ideologis. Saat ini nyaris seluruh politisi yang terjun dalam politik praktis, kesadaran ideologis mereka sudah meluntur. Sebagai contoh, politisi yang mengaku dari partai Islam saja sempat mengatakan kalau perjuangan penegakkan syariah Islam adalah agenda masa lalu. Ini jelas merupakan diktum tidak normal.

Melalui kesadaran ideologis, akan dapat menciptakan sikap amanah pada diri politisi. Terutama amanah dari Allah Swt. Bahwa Islam adalah agama sempurna yang telah diturunkan oleh Allah, mengatur seluruh sendi kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial, budaya maupun keamanan.

Maka ia akan lantang menyerukan syariah Islam sebagai solusi segala problematika, karena perjuangan itu adalah konsekwensi keimanan. Ia akan berada digaris depan untuk menolak kebijakan penguasa yang tidak inheren dengan kepentingan rakyat, ia akan sekuat tenaga mengusir penjajahan non fisik seperti perampokan kekayaan alam di negri ini, dll.

Ketiga: perubahan sistem. figur politisi ideal sekalipun tidak cukup apabila tidak ditunjang dengan iklim sosial politik yang kondusif. Artinya, sehebat apapun politisi bila tidak didukung sistem yang baik, niscaya tidak memberikan perubahan yang berarti. Bahkan fakta berbicara, politisi menjadi ikut terwarnai setelah berkecimpung dalam ranah sistem yang tidak sehat.

Secara kodrati, sistem demokrasi yang telah dipilih negri ini sejatinya memang sudah cacat sejak lahir. Asasnya sekulerisme (memisahkan agama dengan kehidupan).

Pemikiran mendasarnya ialah kedaulatan di tangan rakyat, dengan mengenyampingkan Allah Swt yang berhak membuat hukum. Dari situ saja dapat di indera bahwa sistem ini merupakan sistem lemah , karena dibuat oleh manusia yang serba lemah, sarat kepentingan segelintir orang, dan membawa kerusakan.

Oleh karena itu, perlu ada langkah sistematis dan terarah untuk memperbaiki para politisi tersebut. Syariah Islam adalah resep paling manjur.

*Penulis adalah Tim Analis CIIA (The Community Of Ideological Islamic Analyst) Desk Sosial-Politik

Ali Mustofa
Gang Nusa Indah, Sukoharjo, Surakarta
bengawanrise@gmail.com
085642200044